Menurut Direktur Utama BBRI Sofyan Basir, seluruh debitur perseroan didominasi oleh masyarakat yang berprofesi sebagai peternak, perajin dan pedagang.
Dengan erupsi yang masih terjadi, perseroan untuk sementara membekukan kredit-kredit macet ini.
"Kita bekukan dulu sementara, karena kita lebih fokus pada penanggulangan bencana dulu, sampai ada pengumuman resmi dari pemerintah," ungkap Sofyan kepada detikFinance dalam acara Bersepeda Untuk Bumi di Parkir Selatan, GBK Senayan, Jakarta, Minggu (14/11/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jumlahnya sekitar Rp 400 miliar. Kita masih tunggu," tegasnya.
Sofyan menyatakan bagi para debitur yang tertimpa bencana dan mengalami kerugian diharapkan melaporkan kepada pihak BRI. "Mereka melapor, bank harus melakukan pertanggungjawaban. Nanti ada yang dipanggil juga, karena tidak bisa kita hapuskan semua, nanti dipanggil KPK," imbuh Sofyan.
Berdasarkan data di triwulan III-2010, porsi kredit macet alias non performing loan (NPL) Bank BRI tercatat sebesar 1,15%, menyusut dari tingkat NPL tahun lalu 1,26%. Sementara portofolio kredit BRI per September 2010 mencapai Rp 36,46 triliun atau meningkat dari Rp 192,23 triliun di September 2009 menjadi Rp 228,69 triliun pada September 2010.
(wep/hen)











































