Dana Asing Makin Deras, BI Waspadai Bubble

Dana Asing Makin Deras, BI Waspadai Bubble

- detikFinance
Kamis, 25 Nov 2010 13:27 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai derasnya arus modal masuk (capital inflow) ternyata menimbulkan permasalahan yang kompleks. Bank sentral mencermati arus modal masuk saat ini ke RI sebagian besar berjangka pendek, mudah berbalik arah dan memicu penggelembungan aset (bubble).

Demikian keynote speech Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution yang dibacakan Kepala Biro Riset MoneterΒ  BI Sugeng, pada acara market outlook 2011 di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (25/11/2010).

"Derasnya arus modal global ke perekonomian kita membawa manfaat, tetapi juga menimbulkan permasalahan yang kompleks," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menerangkan, arus modal masuk menimbulkan permasalahan karena sebagian besar bersifat jangka pendek (short term). "Mudah berbalik arah, memicu penggelembungan aset atau aset bubble dan berpoitensi menekan nilai rupiah menjauh dari fundamentalnya atau overshooting," terang Sugeng.

Lebih lanjut Sugeng mengatakan, saat ini dapat disaksikan bagaimana gelombang intervensi di pasar valuta asing kian deras. Hal tersebut dilakukan untuk meredam tekanan apresiasi yang menurut Sugeng merupakan menu harian kebijakan taktis di sejumlah negara berkembang belakangan ini.

"Akibat fenomena yang sementara, orang menyebut currency war (perang mata uang) yang menyebabkan akumulasi cadangan devisa juga meningkat pesat," kata Dia.

Namun, Sugeng juga mengingatkan jika intervensi yang memang membantu tekanan apresiasi mata uang ternyata jika dilakukan terus menerus dapat mengakibatkan beban ongkos untuk sterlisasi membengkak. "Itu juga kami perhatikan," tuturnya.

Oleh karena itu, Sugeng memaparkan untuk menjaga dampak negatif dari capital inflow bank sentral telah mengambil beberapa kebijakan.

"Pertama mengakomodasi nilai tukar yang fleksibel dengan membiarkan rupiah terapresiasi tetapi menjaganya agar tidak overshooting," paparnya.

Kedua, sambung Sugeng, memupuk cadangan devisa yang sangat diperlukan sebagai upaya untuk memperkuat perisai untuk self insurance ketika terjadi sudden reversal atau pembalikkan.

"Terakhir atau yang ketiga, mengambil sejumlah kebijakan macroprudential secara selektif, guna mengelola arus modal yang fluktuatif," tuturnya.

Ia menambahkan, capital inflow sebenarnya juga membawa manfaat jika memang dapat dikelola dengan baik. "Masuknya modal asing meningkatkan devisa di pasar keuangan domestik, mendorong penguatan rupiah dan menurunkan imbal hasil di Surat Utang Negara," katanya.

Rupiah yang menguat, lanjut Sugeng membantu menekan inflasi melalui turunnya harga barang impor. "Sementara itu, dengan turunnya yield SUN juga menurunkan ongkos pembiayaan anggaran pemerintah," tukasnya.

(dru/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads