BI Khawatirkan Aliran Modal Masuk dan Perang Mata Uang di 2011

BI Khawatirkan Aliran Modal Masuk dan Perang Mata Uang di 2011

Herdaru Purnomo - detikFinance
Rabu, 01 Des 2010 12:23 WIB
BI Khawatirkan Aliran Modal Masuk dan Perang Mata Uang di 2011
Jakarta - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi RI di 2011 akan mencapai 6,5%. Namun seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi, BI mengkhawatirkan risiko derasnya aliran modal (capital inflow) dan perang mata uang yang berkelanjutan di 2011.

"Ke depan secara umum BI memperkirakan perekonomian RI di 2011 akan lebih tinggi dari tahun 2010 dimana akan berada di 6%-6,5%," ujar Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR-RI, di Gedung DPR-RI, Senayan, Jakarta, Rabu (01/11/2010).

Namun demikian, Darmin mengungkapkan ada tiga risiko yang perlu dicermati di tahun depan. Pertama, adanya risiko ketidakseimbangan ekonomi global yang dapat menyebabkan menurunnya permintaan eksternal terhadap ekspor dari emerging market termasuk Indonesia sementara kuatnya permintaan domestik akan mendorong akselerasi impor yang lebih tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kedua, yakni risiko terkait capital inflow dan currency war, yaitu berlanjutnya pelonggaran moneter oleh Amerika Serikat yang akan semakin menguatkan aliran modal asing dan memberi tekanan nilai tukar negara emerging market termasuk ke rupiah," papar Darmin.

Sementara risiko ketiga, yakni terkait potensi meningkatnya tekanan inflasi apabila respon sisi penawaran dalam perekonomian yang berupa produksi, distribusi dan struktur pasar tidak secepat peningkatan sisi permintaan.

"Oleh karena itu BI terus menempuh kebijakan yang diperlukan antara lain melanjutkan langkah memperkuat manajemen likuiditas dan meningkatkan efektifitas kebijakan moneter melalui penerapan baruan kebijakan moneter dan makroprudensial," ungkapnya.

Meski demikian, Darmin masih optimistis tingkat inflasi di 2011 akan berada di 5% plus minus 1%. "Dan nilai tukar rupiah akan berada di kisaran Rp 9.250 per dollar AS," tukasnya.

(dru/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads