Hal tersebut disampaikan ekonom dari Bank Danamon Helmi Arman, ekonom Citi Group Johanna Chua dan ekonom BII Samuel Ringoringo dalam reviewnya yang dikutip detikFinance, Kamis (2/12/2010).
"Kami mempertahankan pandangan kami bahwa BI akan mempertahankan BI Rate pada Jumat (3 Desember 2010)), dan kami masih memperkirakan total kenaikan BI Rate 50 basis poin pada tahun depan, dimulai pada kuartal II-2010," ujar Helmi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BPS sebelumnya mencatat inflasi bulan November 2010 mencapai 0,6%. Besaran inflasi Januari-November 2010 sebesar 5,98%, sementara inflasi year on year 6,33%.
"Sumbangan inflasi tertinggi dari harga beras. Dari inflasi 0,6%, beras menyumbang 0,12% karena sepanjang November harganya naik sampai 2%," jelas Kepala BPS Rusman Heriawan kemarin.
Semuel menilai, angka inflasi itu memang lebih tinggi dari ekspektasi yang hanya 5,7% secara year on year.
"Kenaikan harga makanan yang mengejutkan menjadi alasan bagi data-data tersebut. Namun saat ini terlalu awal untuk mengatakan data inflasi harus lebih diperhatikan karena merupakan efek musiman dan sisi suplai dipandang sebagai penyebab utama," jelas Samuel.
Sementara Helmi menekankan, meski saat ini inflasi dinilai masih stabil, namun kedepannya yang perlu diamati sehubungan dengan inflasi ini adalah rencana pemerintah untuk membatasi BBM.
"Namun ini tidak seluruhnya merupakan hal yang buruk karena struktur anggaran yang lebih sehat selanjutnya bisa membantu mengurangi ekspektasi inflasi," jelas Helmi.
Bank Indonesia akan menggelar Rapat Dewan Gubernur pada Jumat besok. BI dalam beberapa kesempatan memang memberikan sinyal tidak akan mengubah BI Rate 6,5% yang sudah dipatiknya sejak 5 Agustus 2009 lalu.
(qom/dnl)
