Perusahaan Pilih Surat Utang Ketimbang Kredit ke Bank

Perusahaan Pilih Surat Utang Ketimbang Kredit ke Bank

- detikFinance
Jumat, 03 Des 2010 16:05 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai lambatnya pertumbuhan kredit perbankan dikarenakan korporasi lebih doyan menerbitkan surat utang dibandingkan meminjam kredit bank.
 
Hal tersebut dikarenakan bunga yang dibayarkan melalui penerbitan emisi surat utang lebih rendah dibandingkan jika meminjam dalam bentuk kredit ke perbankan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Kredit Perbankan BI, Wimboh Santoso ketika ditemui detikFinance di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (03/12/2010).

"Kredit bank yang tumbuh lambat itu  sebenernya karena sekarang korporasi itu lebih memilih untuk menerbitkan surat utang daripada meminjam kredit ke bank. Kan yield surat utang itu murah antara 7%-9% dibandingkan dengan kredit bank yang mencapai 10% lebih," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wimboh lebih jauh menjelaskan yield surat utang itu akan terus rendah dan terus menurun.

"Yield rupiah AA 7,5%, AAA 7,53%, A sekitar 9%. AA- 7,9%. Itu otomatis, bagi perusahaan-perusahaan akan bagus sekali untuk mengeluarkan surat utang," jelasnya.

Wimboh juga mengungkapkan berdasarkan data bank sentral, dari saham IPO pada tahun 2009 tercatat dana yang diperoleh  Rp 12,4 triliun dengan pertambahan 12 emiten baru.

"Dan pada tahun 2010 sampai dengan 19 November 2010 IPO itu sudah mencapai Rp 44 triliun dengan pertambahan 17 emiten," katanya.

Untuk obligasi korporasi, pada tahun 2009 emisi sebesar Rp 27,2 triliun dengan pertambahan 5 emiten dan untuk tahun 2010 emisi Rp 33 triliun dengan pertambahan 6 emiten.

"Untuk tahun 2011 perkiraan kenaikan IPO saham dan obligasi oleh new emiten akan sampai Rp 100 triliun," jelasnya.

Nah hal ini, lanjut Wimboh mengakibatkan korporasi tidak meminjam kreditnya ke industri perbankan.

"Maka dari itu kredit susah sekali tumbuh di kisaran 22%, apalagi mencapai 24%. Tetapi kami harap di Desember 2010 itu kredit akan mengalir cukup deras," tuturnya.

Kredit yang tumbuh lambat tersebut, lanjut Wimboh juga terbukti dari porsi kredit yang belum cair atau undisbursed loan yang masih tinggi di akhir November 2010.

"Di mana yang commited itu mencapai Rp 130 triliun, kan memang dari demand-nya yang kurang," tukasnya.

(dru/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads