ADB: Saatnya Asia Timur Pertimbangkan Kerjasama Mata Uang

ADB: Saatnya Asia Timur Pertimbangkan Kerjasama Mata Uang

- detikFinance
Selasa, 07 Des 2010 11:23 WIB
Hong Kong - Bank Pembangunan Asia (ADB) menilai pemerintah dan otoritas keuangan negara-negara di kawasan Asia Timur yang sedang berkembang perlu lebih  bekerjasama dalam kebijakan nilai tukar dan kebijakan-kebijakan lain.

Hal itu penting untuk mengubah pemulihan yang cepat setelah krisis global menerpa menjadi pertumbuhan ekonomi yang lebih seimbang dan berjangka panjang.

"Demikian uraian satu bagian khusus dari edisi terbaru laporan Asia Economic Monitor yang diluncurkan ADB pada Selasa (7/12/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kerja sama regional dalam nilai tukar mata uang, jika dikelola dengan bijaksana, bisa menjamin kestabilan nilai tukar intra-regional dan sekaligus memungkinkan terjadinya fleksibilitas inter-regional, sehingga bisa membantu mendorong perdagangan dan investasi intra-regional dan menyeimbangkan kembali sumber-sumber pertumbuhan di kawasan," demikian laporan ADB tersebut.

ADB menilai surplus perdagangan yang besar selama ini dari kawasan Asia Timur yang sedang berkembang di satu sisi, dibandingkan dengan meningkatnya  utang di kalangan-negara-negara ekonomi maju disisi lain, telah menimbulkan perdebatan. Hal itu pada akhirnya meningkatkan seruan bagi kawasan Asia Timur  yang sedang berkembang untuk membiarkan mata uangnya terapreasiasi sesuai  dengan kekuatan ekonominya yang meningkat. 

Selain itu, pulihnya kawasan Asia secara cepat dari krisis global baru-baru ini juga telah menarik investor asing  ke kawasan. Mengelola arus modal yang masuk untuk mencegah terjadinya bubble harga aset juga menimbulkan kekawatiran.

"Meningkatnya dengan cepat saling ketergantungan dalam perdagangan dan keuangan dan makin pentingnya efek limpasan dan penularan (spillovers and contagion effects)  di dalam kawasan membuat kerjasama nilai tukar mata uang regional menjadi sangat penting," kata Iwan Azis, Kepala Kantor  Kerja Sama Dan Integrasi Ekonomi ADB (OREI) yang menyiapkan laporan ini.

"Pada saat yang bersamaan, fleksiblitas mata uang regional terhadap mata  uang-mata uang utama di luar kawasan akan membantu kawasan Asia Timur yang  sedang berkembang bisa mengelola arus modal yang masuk dan menghadapi guncangan eksternal dengan lebih baik," imbuh Iwan yang merupakan ekonom dari Indonesia itu.
 
Laporan Asia Economic Monitor ADB ini menyarankan, cara terbaik ke  depan bagi ekonomi Asia Timur adalah dengan mengadopsi zona pemantauan secara informal nilai tukar mata uang mereka tarhadap mata uang eksternal yang dijadikan referensi atau terhadap sejumlah mata uang.

Perubahan besar diluar zona yang tidak mengikat tersebut dapat menjadi bahan pembicaraan secara rahasia untuk mengurangi deviasi yang terjadi. Seiring berjalannya  waktu, pengaturan ini dapat bersifat lebih resmi.
(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads