Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah mengatakan penyeragaman mata uang sebelumnya sukses dilakukan di negara benua Eropa yang menggunakan Euro sebagai mata uangnya.
"Proses ini (penyeragaman mata uang) tidak singkat di mana diawali sejak krisis beberapa tahun silam dan adanya perang di Eropa. Di sana dibutuhkan waktu yang lama sampai terjadi kestabilan ekonomi dan politik," ujar Halim di sela acara South East Asia Central Banks (Seacen)-Seminar yang bertemakan "Optimal Central Banking For Financial Stability, di Hotel Intercontinental, Jimbaran, Bali, Kamis (09/12/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena dampak krisis di ASEAN itu terjadi sebagai dampak yang justru datangnya dari luar bukan dari dalam. Maka kerjasamanya adalah dengan memperkuat ketahanan di negara masing-masing sambil meningkatkan perdagangan intra ASEAN terlebih dahulu," jelas Halim.
Setelah itu, Halim mengatakan, dengan adanya kenaikan sisi perdagangan baik barang maupun jasa antara negara di kawasan Asia maka akan mengurangi tingkat perbedaan ekonomi di antara negara tersebut.
"Setelah itu kita baru bisa bicara soal konvergensi ekonomi ke arah yang lebih tinggi," paparnya.
Konvergensi ekonomi tersebut, menurut Halim diantaranya adalah mencapai sebuah tingkat kesetaraan kestabilan ekonomi, keuangan, dan politik terlebih dahulu. Setelah itu baru bisa diangkat wacana mata uang bersama.
"Awalnya ya dari pengikatan ASEAN terlebih dahulu, misalnya melalui pasar bersama ASEAN yang direncanakan di 2015. Kalau sudah berhasil ya entah kapan kita bisa maju ke mata uang bersama. Karena kalau konvergensi itu harus setara dahulu tak mungkin di sebuah kawasan ada satu negara yang tertinggal dipaksakan masuk ke mata uang bersama," paparnya.
Seperti diketahui, ASEAN merupakan Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara yang dibentuk pada tahun 1967 dan saat ini memiliki 10 negara anggota yakni Brunei, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
(dru/dnl)











































