Hal ini disampaikan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah ketika ditemui di sela acara South East Asia Central Banks (Seacen)-Seminar yang bertemakan 'Optimal Central Banking For Financial Stability' di Hotel Intercontinental, Jimbaran, Bali, Jumat (10/12/2010).
"Karena bagaimanapun juga saat ini yang perlu diwaspadai adalah gejolak dari luar bukan dari dalam. Kita sudah melakukan banyak hal dari early warning system, stress testing tetapi kita harus juga melakukan koordinasi dan kerjasama internasional yang tidak bisa dilakukan sendirian," papar Halim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebelumnya kita koordinasi sesama anggota Seacen ini ketika terjadi capital outflow nah kali ini kerjasamanya itu kalau terjadi inflow. Salah satu hasil dari perjanjian meeting Seacen ini adalah bagaimana kerjasama cross border ketika terjadi capital inflow dan capital outflow," ujar Halim.
Lebih jauh dikatakan Halim, di tingkat bank sentral ASEAN nantinya akan secara langsung dibahas dan dirumuskan untuk menghadapi sebuah situasi global.
"Sudah ada wadah yang secara kebiasaan internasional, atau best practice-nya itu membentuk COS atau College Of Supervisory. Di situ nanti kita diskusi, ramai-ramai dan juga bisa secara bilateral," ungkapnya.
Anggota yang sudah komit atau sudah setuju, sambung Halim yakni lima bank sentral di negara Malaysia, Singapura, Indonesia, Filipina, dan Thailand.
"Nantinya kita ingin cari bagaimana caranya agar kalau terjadi krisis di dunia luar jangan sampai merugikan kita. Kalau sendiri kan kurang optimal, jika dahulu waktu sama-sama menghadapi Outflows ada Chiang Mai initiative, siapa tahu nanti ada Bali Initiative ya kan," canda Halim.
(dru/dnl)











































