PT Bakrie Microfinance Indonesia (BMF) mulai diresmikan pengoperasiannya di Desa Kalangsari, Karawang, Jawa Barat oleh generasi Keluarga Bakrie ke-2 yang tertua, Aburizal Bakrie.
Aburizal atau Ical menerangkan, BMF adalah murni merupakan program kemanusiaan dan bukan sebuah bisnis baru yang profit center dari Kelompok Usaha Bakrie (KUB). Kalaupun ada sistem bagi hasil yang ringan, itu sekedar untuk biaya operasional.
Ia menegaskan, dana yang sudah dikeluarkan tidak akan ditarik kembali. KUB juga tidak akan mengambil keuntungan dalam bentuk apa pun dari program BMF.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
President Director & CEO Bakrie Microfinance Indonesia, B. Irawan Massie menjelaskan, BMF merupakan lembaga pembiayaan usaha mikro yang mengadopsi konsep dan falsafah Grameen Bank, lembaga keuangan mikro di Bangladesh yang diciptakan oleh Pemenang Hadiah Nobel tahun 2006, Muhammad Yunus.
Sejalan dengan konsep tersebut, BMF didirikan sebagai upaya pengentasan kemiskinan melalui peningkatan penghasilan dan kesejahteraan keluarga pra-sejahtera yang direalisasikan secara cepat.
Setiap penerima manfaat dari program BMF akan mendapat Penyertaan Modal Kerja Mikro (PMKM) sebesar US$ 100 atau sekitar Rp 1 juta. Pengembalian modal kerja tersebut berbasis bagi hasil terkelola yang sangat ringan. Diharapkan pinjaman yang diberikan tanpa jaminan tersebut dapat meningkatkan penghasilan keluarga pra-sejahtera dalam waktu singkat dan terus bergulir ke keluarga pra-sejahtera lainnya bila yang bersangkutan tidak memerlukannya lagi.
Sebelum diresmikan, dalam waktu 2 minggu BMF telah memiliki 1000 Nasabah atau Penerima Manfaat. Untuk tahun pertama mulai 2011 ini, modal yang dialokasikan BMF mencapai Rp 100 miliar per tahun.
BMF akan menyalurkan pembiayaan usaha mikro ini melalui koperasi nasional dan ditujukan khusus kepada kaum perempuan. Berdasarkan survey yang dilakukan secara universal, perempuan adalah kelompok masyarakat yang sensitif terhadap penderitaan keluarga dan tangguh dalam berusaha.
"Kaum perempuan juga memiliki tanggung jawab besar untuk mengembalikan kewajibannya," tegas Irawan.
Selain memberi bantuan modal kerja, BMF juga melakukan berbagai program Penyuluhan dan Pemberdayaan kaum perempuan. Penerima Manfaat diminta berjanji, bahwa uang hasil usaha tidak boleh digunakan untuk keperluan konsumtif. Uang hasil usaha hanya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan gizi keluarga, biaya sekolah anak-anak dan keperluan kesehatan.
"Kunci sukses dari model microfinance ini adalah tertanamnya nilai-nilai Tertib & Amanah. Baik pada penerima manfaat maupun pada internal kami sendiri," tutur Irawan.
Untuk mencapai target BMF akan menjadikan 10 kantor cabang pertama sebagai Management Training Centers. Dalam lima tahun ke depan, program ini direncanakan akan memiliki penerima manfaat sebanyak satu juta jiwa dengan jumlah cabang mencapai 450 kantor se-Indoneia.
"Menurut data Badan Pusat Statistik jumlah penduduk miskin di Indonesia 2010 sebesar 35 juta jiwa. Sementara World Bank menyebutkan ada 100 juta. Oleh
karenanya upaya untuk pengentasan kemiskinan tidak bisa dilakukan oleh BMF sendiri," jelas Irawan.
"Melalui program pembiayaan mikro BMF ini, diharapkan keluarga pra-sejahtera atau the poorest of the poor dapat menikmati manfaat finansial berupa peningkatan penghasilan dan kesejahteraan secara cepat sesuai target yang diharapkan," imbuhnya.
(qom/dnl)











































