Demikian diungkapkan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia, Muliaman D Hadad kepada detikFinance melalui pesan singkatnya di Jakarta, Kamis (16/12/2010).
"Soal Moody's kita menyambut baik hasil penilaiannya. Program penguatan industri perbankan akan terus dilanjutkan dan dikawal dengan pengawasan dan regulasi perbankan yang memadai," ujar Muliaman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tantangan pokok kedepan adalah membuka akses pembiayaan yang lebih besar bagi masyarakat sambil meningkatkan kapasitas bank untuk tumbuh dan berkembang dengan lebih sehat," katanya.
Ditempat terpisah Ekonom Faisal Basri mengungkapkan saat ini Loan to GDP ratio Indonesia memang masih rendah dibandingkan dengan negara lain.
"Loan to GDP masih mencapai 30% dimana ini menunjukkan masih dibawah rata-rata yang bisa dianggap bank itu gagal menjalankan intermediasinya," paparnya disela seminar Bank Indonesia yang bertemakan Reformasi Kebijakan Moneter dan Pengawasan Bank di Indonesia Pasca Krisis Global di Hotel Intercontinental.
Menurut Faisal angka tersebut masih dibawah negara Mongolia dan negara-negara tetangga lain. "Kita tahu semua China itu loan to GDP-nya mencapai 140% sementara itu Vietnam, Thailand dan Malaysia di atas 100%. Di Indonesia ya industrinya loyo," tukasnya.
Seperti diketahui, lembaga rating internasional, Moody's menaikkan outlook perbankan Indonesia menjadi stabil, dari outlook negatif di Januari 2010. Perbaikan outlook karena kinerja dan permodalan yang relatif stabil, bahkan menguat dalam empat sampai enam kuartal ke depan.
"Secara keseluruhan, tingkat permodalan perbankan di Indonesia telah meningkat. Kualitas aset dan ongkos kredit juga terus menunjukkan perbaikan. Kemudian, risiko likuiditas perbankan Indonesia semakin menurun, dan pengelolaan manajemen perbankan menunjukkan respon yang cepat untuk memperbaiki keadaan," ujar Moody's Vice President and Senior Credit Officer Beatrice Woo dalam siaran pers yang diterima detikFinance, Kamis (16/12/2010).
Meskipun begitu, Woo mengatakan masih ada tantangan-tantangan yang dihadapi oleh sistem perbankan di Indonesia, seperti gejolak politik, lemahnya penegakan hukum tingginya tingkat korupsi, serta rendahnya tata kelola dan transparansi perusahaan. Ini yang harus diperkuat oleh sistem perbankan di Indonesia.
(dru/qom)











































