Demikian diungkapkan oleh Anggota KEN Raden Pardede dalam sebuah seminar KEN bertajuk Prospek Ekonomi Indonesia 2011 di Menara Mega, Jalan Tendean, Jakarta, Selasa (20/12/2010).
"Ada rekomendasi memang berupa 9 kebijakan pilihan yang memang disampaikan kepada Presiden di mana kebijakan tersebut untuk menjaga reversal dan pengelolaan capital inflow agar tidak merugikan," ujar Raden.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selain itu berisi juga prinsip pengendalian inflow melalui kebijakan pengurangan aprisiasi kurs rupiah yang dilakukan juga yang diimbangi juga dengan kontraksi fiskal. Serta mendorong perusahaan swasta dan BUMN untuk menggalang dana dari pasar modal melalui Initial Public Offering (IPO)," ujar Raden.
KEN memaparkan pergerakan nilai tukar rupiah di 2011 masih akan bertahan pada level yang relatif kuat terhadap dolar AS. Rupiah yang masing menguat ini didorong akibat pertumbuhan ekonomi yang bakal mencapai 6,4% serta dipengaruhi oleh adanya peluang yang cukup besar akan terjadinya perbaikan peringkat surat utang Indonesia.
Nilai tukar rupiah sesuai dengan prediksi KEN akan stabil dan cenderung menguat di kisaran Rp 8.700/US$ sampai Rp 9.200/US$.
Raden menambahkan, ketika capital inflow terus membanjiri Indonesia KEN memberikan rekomendasi juga untuk membuka keran investasi jangka panjang khususnya kepada sektor infrastruktur. Karena, perpanjangan tempo dari obligasi, SBN hingga direct investment dinilai Raden dapat menahan reversal tersebut.
"Pekerjaan rumah yang masih tertunda beberapa tahun ini antara lain keterbatasan penyediaan infrastruktur, pengendalian, pembengkakan subsidi energi memang belum jalan sebagaimana mestinya. Dengan adanya inflow yang deras ada baiknya didorong ke sektor konstruksi hinga perpindaahan tempo dari spekulasi dan murni trader," tukasnya.
(dru/dnl)











































