Menurut hasil kajian Mandiri Sekuritas, seperti disampaikan Credit Analyst-nya, Ali Hasanudin, volatilitas pasar obligasi tercatat meningkat dalam satu bulan terakhir karena pengaruh global.Β Diantaranya permasalah utang Eropa, khususnya dari Irlandia yang dikhawatirkan merambat ke sejumlah negara seperti Portugal, Italia dan Spayol.
Selain itu, kekhawatiran akan perang mata uang (currency war) serta memanasnya hubungan dua negera Korea di kawasan Semenanjung, masih memberikan dampak negatif ke pasar obligasi. Namun, sisi positifnya adalah angka inflasi Indonesia masih dapat terkontrol dengan baik pada level yang cukup rendah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kekhawatiran crowding out effect juga telah menurun, dengan pemerintah menurunkan defisit anggaran dari 2,1% dari PDB menjadi hanya 1,5%," jelasnya seperti dikutip detikFinance di Jakarta, Selasa (21/12/2010).
Hal ini menjadikan penerbitan obligasi turun sebanyak Rp 15 triliun dari target awal Rp 178 triliun menjadi Rp 163 triliun. Pemerintah Indonesia sendiri telah menerbitkan Rp 160,4 triliun obligasi pemerintah atau 99% dari target yang baru.
Adanya sovereign rating upgrade juga menyebabkan persepsi risiko investor asing terus menurut. CDS yang biasa digunakan sebagai indikator persepsi risiko menunjukkan penurunan 50 bps menjadi 137 bps dibandingkan tahun 2009.
Data perdagangan pasar obligasi pemerintah sejak awal tahun menunjukkan investor asing masih menjadi net buyer tertinggi. Tercatat kepemilikan asing di SUN mencapai Rp 191,2 triliun atau 30% dari total outstanding tertinggi sepanjang sejarah.
"Foreign fund inflows masih menjadi faktor utama penurunan yield obligasi pemerintah," katanya.
Pertumbuhan ekonomi yang membaik dan ekspektasi rupiah yang menguat tentu akan berdampak positif ke pasar modal obligasi. Namun inflasi yang diperkirakan kembali ke level normal dan potensi kenaikan suku bunga BI (BI rate), diperkirakan akan menahan laju penurunan yield SUN lebih dalam.
"Rendahnya yield yang ditawarkan oleh obligasi pemerintah, menyebabkan beberapa investor institusi melakukan shifting portofolio mereka ke obligasi korporasi. Dengan risk premium yang ditawarkan saat ini yang masih tinggi dibandingkan long term average dan diharapkan terjadi rerating seiring dengan membaiknya pertumbuhan PDB, menyebabkan permintaan obligasi korporasi diperkirakan masih akan cukup tinggi," terangnya.
Ke depan industri obligasi masih perlu memperhatikan capital outflow, akibat dari volatilitas yang ada. Untuk itu ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, yaitu terus memburuknya efek utang negara-negara Eropa, yang tentu mempengaruhi likuiditas di pasar global. Kedua, pengetatan kebijkan moneter yang dilakukan oleh beberapa negara Asia seperti Cina, India, Malaysia dan Thailand. Terakhir, ancaman tekanan inflasi yang akan berdampak pada naiknya suku bunga domestik.
(wep/qom)











































