Gubernur BI: Pelemahan Rupiah Masih Bisa Ditolerir
Selasa, 04 Mei 2004 11:09 WIB
Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah menilai melemahnya rupiah ke level Rp 8.700-an per US$ 1 masih bisa ditolerir. Bahkan level tersebut masih bisa diakomodasi oleh perekonomian Indonesia khususnya dalam konteks perdagangan internasional.Burhanuddin Abdullah mengungkapkan hal itu sebelum Raker dengan Komisi IX DPR RI di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (4/5/2004)."Kondisi rupiah yang sekarang di level Rp 8.700 per US$ 1 sebetulnya masih bisa diakomodasi oleh perekonomian kita dalam konteks perdagangan internasional. Rupiah masih cukup comfortable bagi ekspor dan impor," katanya.BI sendiri akan terus berada di pasar agar fluktuasi rupiah tidak terlalu besar. Bagi BI sendiri tidak akan mematok rupiah harus berada di level berapa tapi pada tingkat fluktuasinya. "Karena fluktuasi yang sebesar akan menyelitkan pengusaha untuk melakukan perencanaan bisnisnya. Selama pelemahan masih dalam range dan selama tingkat volatilitasnya masih bisa diakomodasikan oleh perencana usaha itu masih bisa ditoleransi," ujarnya.Burhan menilai melemahnya rupiah saat ini tidak semata dipengaruhi faktor dalam negeri tapi juga faktor luar negeri. Khususnya dipengaruhi oleh laporan ekonomi AS dan rencana Cina untuk menurunkan pertumbuhan ekonominya. Kondisi ini mempengaruhi nyaris seluruh mata uang regional."Kita memang tidak bisa menghitung berapa besar pengaruhnya terhadap satu per satu mata uang. Tapi secara umum masalah eksternal menjadi pengaruh yang masuk ke mata uang rupiah," jelasnya.
(san/)











































