BI: Menyelamatkan Bank di Indonesia Urusannya Jadi Panjang

BI: Menyelamatkan Bank di Indonesia Urusannya Jadi Panjang

Herdaru Purnomo - detikFinance
Sabtu, 22 Jan 2011 14:10 WIB
BI: Menyelamatkan Bank di Indonesia Urusannya Jadi Panjang
Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengungkapkan penyelamatan (bailout) yang dilakukan pada waktu krisis memang diperlukan untuk memperbaiki ekonomi dan sistem keuangan. Tetapi, apa yang terjadi di Indonesia tidak demikian, krisis yang terjadi tahun 2008 yang memaksa pemeirntah menyelamatkan sebuah bank justru menimbulkan kekeruhan ekonomi, politik dan masalah hukum.

Demikian disampaikan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution dalam pertemuan tahunan perbankan 2011 (Bankers Dinners) di Gedung Bank Indoneisa, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat malam (22/1/2011).

"Bailout itu mungkin perlu ketika krisis, namun pengalaman membuktikan, hal itu menimbulkan kekeruhan baru, baik dari sisi ekonomi, komplikasi politik dan masalah hukum. Kita memerlukan pencegahan dan memiliki pertahanan modal yang kuat," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Darmin menekankan, krisis yang dialami baik tahun 1997/1998 maupun 2007/2008, memberikan pesan penting bahwa kerapuhan perbankan akan  merugikan negara, bank sentral dan akhirnya jatuhnya pada kesengsaraan rakyat. Oleh karena itu, lanjut Darmin bank sentral telah mempersiapkan permodalan bank agar semakin kuat.

"Saya berpendapat penguatan sistem pengawasan industri perbankan dan pendalaman industri melalui konsolidasi tetap menjadi faktor penentu keberhasilan melewati krisis ditengah persaingan global. Modal perbankan mungkin mencukup untuk menggerakkan sendi-sendi perekonomian nasional secara gradual, namun saya merasa belum pasti cukup kokoh untuk menghadapi krisis," paparnya.

"Pemikiran permodalan sudah mulai intensif dibahas diantaranya dengan menggantikan paradigma bailout menjadi bail-in. Artinya perbankan sendiri harus memiliki buffer untuk menyerap risiko dan guncangan dalam hal terkena imbas krisis," imbuh Mantan Dirjen Pajak ini.

Lebih jauh Darmin mengatakan, konsolidasi perbankan baik dari sisi permodalan maupun kelembagaan perlu dipercepat. Oleh karenanya, lanjut Darmin akan dikaji alternatif-alternatif insentif dan disinsentif yang lebih menarik terhadap pelaksanaan konsolidasi.

"Baik yang berbentuk merger, acquisition, atau corporate action lainnya. Kuatnya pemodalan bank tersebut juga bermanfaat untuk  mengembangkan daya saing seperti pengembangan teknologi informasi dan skala usaha," terangnya.

(dru/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads