Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengimbau perbankan nasional untuk tidak jor-joran atau terlalu tinggi mematok gaji dan bonus direksi bank. Sebaiknya, gaji dan bonus diberikan dengan prediksi risiko ke depan, bukan keberhasilan yang sudah terjadi di masa lampau.
"Kalau gaji kita tidak membatasi, yang akan dilakukan adalah bonus dan gaji itu jangan melihat kebelakang karena kinerja atau apa, tapi meilhat risiko ke depan. Jangan kasih gaji dan bonus jor-joran, malah mempersulit bank ke depan, katanya dalam acara pertemuan tahunan perbankan (Bankers Dinner) di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat malam (21/1/2011).
Menurut Darmin, selama ini gaji dan bonus diberikan berdasarkan performa bankir tersebut di masa lalu. Namun, BI meminta bank juga memperhatikan risiko bank itu ke depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk Zulkifli Zaini mengatakan, gaji direksi di bank yang ia pimpin serta di bank-bank lain di Indonesia masih relatif tidak terlalu tinggi. Masih beragam, tergantung dari aset bank yang bersangkutan.
"Nanti kita lihat kebijakan BI soal gaji seperti apa. Memang ada yang besar, menengah dan kecil kan berbeda-beda banknya. Tergantung aset bank-nya juga dong," ujarnya.
Sebelumnya, BI berencana untuk mengatur besaran gaji para eksekutif perbankan agar tidak menjadi beban dan risiko yang berlebihan bagi bank. Apalagi pada krisis 2008 lalu tingginya bonus dan gaji bankir dinilai jadi salah satu pemicu krisis ekonomi.
Pemberian bonus yang besar kepada para bankir memberikan kontribusi terjadinya krisis finansial global. Bonus yang tinggi tersebut memicu para bankir berani mengambil risiko yang besar sehingga terkadang mengabaikan risiko ke depannya.
(ang/ang)











































