Rupiah Melemah Akibat Rambatan Penguatan Dolar AS
Jumat, 07 Mei 2004 11:13 WIB
Jakarta - Nilai tukar rupiah selama bulan April 2004 sedikit mengalami tekanan. Tekanan tersebut terutama dipengaruhi oleh dampak rambatan penguatan dolar AS secara global serta sentimen regional atas upaya perlambatan pertumbuhan ekonomi Cina.Demikian salah satu kesimpulan pokok dalam Rapat Dewan Gubernur Bulanan-Bank Indonesia sebagaimana disampaikan oleh Deputi Kepala Biro Komunikasi BI Rizal A. Djaafara dalam rilis yang diterima detikcom, di Jakarta, Jumat (7/5/2004).Meskipun mengalami tekanan, volatilitas nilai tukar rupiah relatif rendah. Hal tersebut antara lain terkat dengan faktor fundamental yang kondusif sebagaimana tercermin dari masih tingginya cadangan devisa, masih kondusifnya country risk, serta langkah intervensi yang dilakukan BI.Secara rata-rata, nilai tukar rupiah bergerak pada level Rp 8.617 per US$ 1 atau tetap dalam kisaran perkiraan semula yaitu Rp 8.200?Rp 8.700 per US$ 1. Dalam bulan April, seiring dengan terkendalinya laju inflasi, suku bunga SBI 1 dan 3 bulan turun sebesar 9 bps sehingga tercatat menjadi 7,33 persen dan 7,25 persen, sementara suku bunga FASBI juga turun 25 bps menjadi 7 persen. Penurunan suku bunga ini telah diikuti dengan menurunnya suku bunga perbankan dalam besaran yang bervariasi dimana penurunan terbesar terjadi pada suku bunga kredit konsumsi.Dengan perkembangan tersebut, spread antara suku bunga deposito dengan kredit mulai sedikit menipis, meski secara umum masih cukup lebar. Kinerja PerbankanSementara itu, perkembangan kinerja perbankan secara keseluruhan menunjukkan kestabilan dan tidak menunjukkan adanya potensi risiko yang dapat membahayakan stabilitas sistem keuangan, meskipun dalam bulan April 2004 terdapat penutupan dua bank yakni Bank Dagang Bali dan Bank Asiatic. Berdasarkan data Maret 2004, beberapa indikator-indikator perbankan memperlihatkan perbaikan. Kualitas kredit secara industri sedikit membaik seperti ditunjukkan oleh NPL gross yang menurun dari 8,3 persen menjadi 7,8 persen. Rentabilitas perbankan juga masih memadai seperti yang ditunjukkan oleh ROA yang membaik dari 2,6 persen menjadi 2,7 persen. Di sisi permodalan, CAR industri perbankan dalam 3 bulan terakhir menunjukkan kestabilan dan tercatat mencapai 23,5 persen pada bulan Maret 2004. Selain itu, kecenderungan penurunan suku bunga yang terus berlangsung tampaknya terus mendorong pengucuran kredit perbankan, yang mencerminkan perbaikan fungsi intermediasi perbankan. Hal ini antara lain ditunjukkan dengan sedikit meningkatnya rasio LDR dari 42,9 persen menjadi 43,7 persen. Jumlah kredit yang diberikan meningkat menjadi Rp 485,9 triliun dibandingkan Rp 477,3 triliun pada bulan sebelumnya. Kredit baru selama bulan laporan tercatat sebesar Rp 2,1 triliun, di mana sebesar Rp 1,2 triliun disalurkan ke sektor UMKM. Berdasarkan perkembangan diatas, Bank Indonesia memandang bahwa prospek makroekonomi ke depan baik pertumbuhan ekonomi, inflasi, maupun nilai tukar rupiah pada triwulan II-2004 dan keseluruhan tahun 2004 diperkirakan masih sesuai dengan prakiraan awal tahun. Prospek pertumbuhan ekonomi dan inflasi IHK pada triwulan II-2004 masih sesuai dengan prakiraan semula yaitu masing-masing 4,3- 4,8 persen (y-o-y) dan 5-6 persen. Namun demikian, beberapa perkembangan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tekanan nilai tukar ke depan, terutama kemungkinan kenaikan suku bunga Fed Fund, akan terus dicermati secara seksama. Dalam bulan mendatang, BI akan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang berhati-hati dalam rangka mencapai sasaran inflasi jangka menengah panjang. Dalam kaitan itu, suku bunga SBI akan tetap dipertahankan di sekitar level yang berlaku saat ini, sementara uang primer akan tetap diarahkan pada sasaran indikatifnya disesuaikan dengan pencapaian sasaran inflasi jangka menengah. Sebagai bagian dari upaya memperbaiki struktur suku bunga, mulai bulan Mei 2004 BI telah mengubah anchor dalam penetapan maksimum suku bunga penjaminan deposito dengan menggunakan acuan suku bunga SBI 3 bulan. Dengan digunakannya suku bunga SBI 3 bulan sebagai anchor, gradasi suku bunga pasar dan instrumen moneter akan lebih wajar dan diharapkan dapat mendorong peningkatan fungsi intermediasi perbankan.Guna menjaga stabilitas nilai tukar, langkah intervensi/sterilisasi valas akan tetap dilakukan dalam bulan-bulan mendatang. Di samping itu, BI juga akan mengintensifkan monitoring, moral suasion dan pengawasan transaksi devisa pelaku utama di pasar. Di bidang perbankan, BI akan meningkatkan langkah-langkah pengawasan perbankan khususnya dalam mengantisipasi peningkatan risiko dan penurunan kinerja perbankan, antara lain melalui pemantauan pelaksanaan manajemen risiko dan pemantauan atas pelaksanaan rencana bisnis bank yang telah disetujui pada akhir April 2004.
(san/)











































