Melonjak 100%, Neraca Pembayaran RI Surplus US$ 30,2 Miliar di 2010

Melonjak 100%, Neraca Pembayaran RI Surplus US$ 30,2 Miliar di 2010

- detikFinance
Selasa, 08 Feb 2011 17:12 WIB
Jakarta - Sepanjang 2010, neraca pembayaran Indonesia (NPI) tercatat mengalami surplus US$ 30,28 miliar, naik 100% lebih dibandingkan 2009 yang sebesar US$ 12,5 miliar.

Kenaikan NPI ini didorong oleh melonjaknya NPI pada triwulan IV-2010 yang mencapai US$ 11,29 miliar.

Kepala Biro Humas Bank Indonesia (BI) Difi A. Johansyah mengatakan, di triwulan IV-2010 surplus NPI naik dibanding triwulan III-2010 yang sebesar US$ 6,9 miliar. Demikian juga dibandingkan triwulan IV-2009 yang sebesar US$ 3,94 miliar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Transaksi berjalan di triwulan IV-2010 mencatat surplus US$ 1,2 miliar (0,7% dari PDB), didukung oleh kinerja positif pada neraca perdagangan non migas, neraca perdagangan gas, dan neraca transfer berjalan.

"Neraca perdagangan mengalami kenaikan surplus berkat tingginya pertumbuhan ekspor komoditas non migas, khususnya yang berbasis sumber daya alam, seiring kuatnya permintaan dunia dan tingginya harga di pasar internasional," tutur Difi dalam siaran pers, Selasa (8/2/2011).

Tapi sepanjang 2010, transaksi berjalan mengalami penurunan menjadi US$ 6,29 miliar, dari US$ 10,192 miliar. Salah satunya adalah karena adanya peningkatan impor sepanjang 2010.

Difi juga mengatakan, surplus transaksi berjalan tersebut di triwulan IV-2010 sedikit lebih rendah dari triwulan sebelumnya karena pembayaran jasa transportasi dan imbal hasil kepada investor asing yang meningkat mengikuti kenaikan impor dan arus masuk modal asing.

Sepanjang triwulan IV-2010, transaksi modal dan finansial mengalami kenaikan surplus hingga mencapai US$ 9,9 miliar. Arus masuk investasi langsung meningkat signifikan sejalan dengan iklim investasi yang terus membaik dan kondisi makroekonomi yang stabil. Transaksi modal sepanjang 2010 juga naik tipis menjadi US$ 4,95 miliar, dari US$ 4,861 miliar di 2009.

"Arus masuk investasi lainnya juga meningkat yang bersumber dari penarikan utang luar negeri pemerintah dan penarikan simpanan milik perbankan domestik di luar negeri," jelas Difi.

Penarikan simpanan perbankan tersebut, selain akibat meningkatnya kebutuhan pembayaran luar negeri, juga disebabkan oleh berkurangnya pasokan valas dari investasi portofolio asing sehubungan dengan krisis yang terjadi di Eropa. (dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads