Meski Rupiah Kolaps, Asumsi APBN 2004 Dinilai Masih On Track

Meski Rupiah Kolaps, Asumsi APBN 2004 Dinilai Masih On Track

- detikFinance
Selasa, 11 Mei 2004 11:04 WIB
Jakarta - Kepala Badan Analisa Fiskal Depkeu Anggito Abimanyu menilai asumsi dasar APBN 2004 masih on track, meski saat ini terjadi gonjang-ganjing di pasar uang dan pasar modal."Saya kira masih on track-lah perkiraan realisasi kita dari sisi asumsi dasar," kata Anggito sebelum raker dengan Komisi IX DPR RI di Gedung MPR/DPR, Jl. Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa, (11/5/2004).Diakui Anggito, dari sisi inflasi memang pada April terjadi kenaikan yang cukup besar. Hal itu berbeda dengan kebiasaan bulan April di tahun-tahun sebelumnya yang selalu deflasi."Memang itu menimbulkan pertanyaan besar pada policy kita di bidang perdagangan. Policy di bidang itu harus jelas, kalau terjadi kelangkaan bahan pangan itu bagaimana mengatasinya," kata Anggito.Ia lalu menyebutkan 40 persen inflasi saat ini disumbangkan oleh faktor komsumsi dan pangan. Meski terjadi lonjakan pada April, lanjut Anggito, perkiraan inflasi sepanjang 2004 ini akan berada pada kisaran 5,5-6 persen atau di bawah target dalam APBN 2004 yang sebesar 6,5 persen.Terkait dengan asumsi pertumbuhan ekonomi, menurutnya, tetap sebesar 4,8 persen. Sedangkan nilai tukar rupiah yang saat ini menembus Rp 9.020, hingga akhir tahun rata-ratanya diperkirakan masih akan ada di kisaran Rp 8.550/dolar AS, atau di bawah target dalam APBN 2004 yang sebesar Rp 8.600.Mengenai suku bunga SBI yang dalam APBN 2004 ditargetkan 8,5 persen diperkirakan realisasinya sebesar 7-7,25 persen. Namun untuk harga minyak dunia yang semula dipatok 22 dolar AS/barel realisasinya diperkirakan meningkat menjadi 24,5 dolar AS/barel. Sedangkan produksi minyak yang dalam APBN diproyeksikan 1,1 juta barel/hari, realisasinya diperkirakan 1,05 juta berel/hari.Sementara Menkeu Boediono saat dikonfirmasi, apakah akan ada revisi APBN 2004 menyusul melemahnya rupiah akibat kondisi ekonomi yang terguncang, Menkeu mengatakan, "Perubahan itu ada masanya. Kita akan lihat lagi dan perhitungkan dalam APBNP."Menkeu melihat melemahnya rupiah dan anjloknya IHSG saat ini sebagai dinamika pasar mengingat semua mata uang juga mengalami hal yang sama.Menkeu sendiri tidak melihat pemilihan presiden dan wakil presiden pada Juni nanti ikut mempengaruhi sentimen negatif pada nilai tukar maupun indeks saham. (mi/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads