Farial: Rupiah Akan Kesulitan Kembali ke Level Rp 8.700-an
Selasa, 11 Mei 2004 11:35 WIB
Jakarta - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi masih akan terus berlangsung hingga selesainya pemilihan presiden. Rupiah yang telah menembus level Rp 9.000/dolar AS diperkirakan akan sulit kembali ke level maksimal yang ditetapkan BI, Rp 8.700/dolar AS."Kondisi ini masih akan berlanjut hingga pemilihan presiden. Karena selain faktor eksternal, ketidakpastian di dalam negeri juga masih panjang," kata Direktur Currency Manangement Group Farial Anwar kepada detikcom di Jakarta, Selasa, (11/5/2004).Pemilihan presiden putaran pertama yang berlangsung 5 Juni nanti, kata dia, belum tentu menjamin adanya presiden terpilih. Karena bisa saja dilanjutkan dengan pemilihan tahap kedua. Belum lagi, para capres saat ini belum memiliki platform ekonomi yang jelas."Ini tentu saja sangat mengkhawatirkan, apalagi kalau misi dan visinya tidak sesuai keinginan pasar. Belum lagi masalah gangguan keamanan. Meski ekskalasinya tidak meluas, tapi tetap membuktikan keamanan sedikit terganggu," tutur Farial.Diakui Farial, anjloknya nilai tukar tidak hanya terjadi pada rupiah tapi juga terhadap seluruh mata uang di dunia akibat rebound dolar AS setelah selama dua tahun melorot.Namun, ia mengingatkan tembusnya rupiah ke level Rp 9.000-an/dolar AS jika tidak berhasil diredam akan membuat swing yang luar biasa. Apalagi level atas yang ditolerir BI, Rp 8.700/dolar AS sudah tertembus."Volatilitasnya sudah sangat tinggi, ini bisa membuat panic buying, orang akan ramai-ramai memburu dolar AS," ujarnya.Kondisi ini, lanjut dia, akan memjadi taruhan bagi BI, apakah otoritas moneter tersebut masih memiliki wibawa di pasar. "Karena harusnya dengan cadangan devisa kita yang sudah di posisi 35 miliar dolar AS, BI bisa mengendalikan pasar," kata Farial.Pasalnya, lanjut dia lagi, jika dolar AS lari kencang hingga di atas Rp 9.000/dolar AS akan sulit bagi BI mengembalikannya di bawah level itu. "Level Rp 8.700/dolar AS akan sulit dilihat lagi kecuali ada intervensi besar-besaran. Tapi sekarang kan supliernya sudah tidak ada lagi. Dulu kan masih ada BPPN yang menjual dolarnya dari hasil divestasi, sekarang BI sendirian. Jadi, harapan ke Rp 8.700/dolar AS akan sulit dicapai," paparnya.
(mi/)











































