Manajemen Bank Permata Tolak Merger dengan BNI
Rabu, 12 Mei 2004 13:55 WIB
Jakarta - Manajemen PT Bank Permata Tbk menolak merger dengan PT Bank BNI Tbk. Alasannya, perseroan lebih memilih menjadi bank fokus sesuai ketentuan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI).Dalam API, ada 4 model bank sesuai besarnya modal yakni bank internasional dengan modal di atas Rp 50 triliun, bank nasional dengan modal antara 10-50 triliun, bank fokus dengan modal Rp 100 miliar-10 triliun dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dengan modal di bawah Rp 100 miliar. "Ini bukan zaman Siti Nurbaya lagi dimana orang dipaksa untuk kawin tanpa kita dimintai pendapatnya lebih dulu. Kita sudah melakukan kajian yang bagus bahwa kita ingin menjadi bank yang fokus karena nanti kalau dimerger logonya jadi tidak ada sehingga cost yang sudah dikeluarkan mubazir," kata Presiden Komisaris Bank Permata Aditiawan Chandra usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di kantor pusat Bank Permata, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (12/5/2004).Sedangkan Direktur Utama Bank Permata Agus Martowardojo lebih diplomatis. Menurutnya, manajemen tidak dalam posisi menerima atau menolak. Namun manajemen telah melakukan kajian dimana bila harus merger, diharapkan tidak hanya dilihat aspek finansial saja namun juga aspek non-finansial.Alasannya, lanjut dia, banyak upaya merger bank gagal karena tidak diperhatikannya aspek non-finansial seperti kultur organisasi, corporate governance dan infrastruktur teknologi informasi. "Merger bisa gagal jika tidak memperhatian faktor non-finansial karena bisa saja salah satunya tidak fit," katanya.Agus juga menambahkan, pelaksanaan merger harus dengan persiapan yang baik, hati-hati dan tidak terburu-buru. Sementara, Komisaris Bank Permata Rachmat Saptaman menilai lebih baik saat ini dilakukan divestasi dengan penawaran secara terbuka, baik dari dalam maupun luar negeri, sehingga nanti yang terbaik yang akan dipilih."Langkah BNI patut diapresiasi, namun sebaiknya lamaran itu biarlah terbuka baik dari dalam maupun luar negeri. Siapa yang terbaik itu yang dipilih, terutama yang bisa memberikan nilai tambah," ujar Rachmat.Sedangkan Agus menambahkan, mergernya Bank Permata-BNI hanya akan membuat modal gabungan kedua bank itu sebesar Rp 14 triliun sehinga masih terlampau jauh untuk menjadi bank internasional yang syarat modalnya minimal Rp 50 triliun.Aditiawan menilai merger merupakan upaya terakhir. "Bagaimanapun pelaksanaan merger, salah satu pihak punya hidden agenda yang kita tidak tahu. Dulu Bank Permata hasil merger lima bank, itu saja banyak masalah," katanya sambil menambahkan merger biasanya karena ada salah satu bank yang tidak sehat.Tak Ada DividenSementara itu, RUPS Bank Permata menyetujui tidak adanya pembagian dividen atas laba bersih tahun 2003 yang sebesar Rp 558,1 miliar. Pasalnya, perseroan akan memasukkan keuntungan ke dalam ekuitas agar tidak terjadi defisit laba ditahan (retained earning).Selain itu, pemegang saham juga menyepakati pelaksanaan reverse stock split dengan rasio 25:1. Saham seri A yang semula nilai nominalnya Rp 500 menjadi Rp 12.500 per saham. Sedangkan saham seri B yang bernilai Rp 5 menjadi Rp 125 per saham.Nantinya, jumlah saham setelah reverse stock split menjadi 7,7 miliar dari sebelumnya 193 miliar saham. Diharapkan pada pekan kedua Juni mendatang, reverse stock sudah bisa dilaksanakan dengan terlebih dulu membeli saham-saham odd lot.Secara teori, menurut Direktur Bank Permata Elvyn G. Massasya, untuk 25 hari bursa harga saham Bank Permata akan menjadi Rp 1.000 per saham, jika rata-rata saat ini sebesar Rp 39,4 per saham.Lewat RUPS, manajemen Bank Permata juga sudah mendapat persetujuan pemegang saham untuk membuka unit bisnis syariah.
(ani/)











































