BI Ancam Panggil Manajemen 4 Bank Jika Teguran Tak Digubris
Kamis, 13 Mei 2004 15:22 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) akan memanggil manajemen empat bank asing yang diduga ikut menyebabkan terpuruknya rupiah, jika teguran tertulis yang dilayangkan BI tidak digubris. Bahkan, BI akan melaporkan kepada otoritas negara bank bersangkutan."Dalam hal moral suation (teguran) tidak digubris tentunya BI akan panggil manajemen, dan akan memberitahukan kepada otoritas negara (bank) bersangkutan," kata Direktur Pengawasan Bank II BI Aris Anwari sebelum rapat dengan Komisi IX di Gedung MPR/DPR, Jl. Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis, (13/5/2004).Menurut Aris, langkah pemanggilan manajemen dan pemberitahuan kepada otoritas negara bank bersangkutan dilakukan BI jika keterlibatan keempat bank itu dalam memperkeruh perekonomian Indonesia sudah terbukti.Saat disinggung, apakah teguran tertulis dari BI sudah efektif menekan gejolak rupiah dan praktik spekulasi, Aris mengiyakannya."Kelihatannya teguran itu efektif, sekarang sudah baik. Artinya, pemborongan dolar AS sudah mulai berkurang," kata Aris.Ia juga menyebutkan, sejak Selasa, lalu, BI sudah menempatkan orang-orangnya di dealling room perbankan nasional. Hal itu dilakukan untuk memantau kemungkinan adanya spekulasi.Aris menilai, melemahnya rupiah saat ini memberikan sinyal bahwa BI harus melakukan sesuatu untuk menghindari terulangnya kasus ini.Sebelumnya Gubernur BI Burhanuddin Abdullah mengungkapkan adanya empat bank asing yang ikut berspekulasi di pasar valas, sehingga menyebabkan rupiah makin terpuruk. Atas aksi keempat bank itu, BI telah melayangkan surat teguran. Empat itu diduga memborong dolar AS untuk dibawa ke luar negeri.Ubah Aturan Devisa NettoDalam kesempatan itu, Aris juga menjelaskan, BI pada Mei ini akan mengeluarkan peraturan BI (PBI) baru menyangkut aturan devisa netto perbankan.Perubahan aturan devisa netto ini dilakukan mengingat saat ini tidak ada pembeda antara devisa netto bank yang treasury-nya sangat sibuk dengan bank yang treasury-nya tidak sibuk."Sekarang ini devisa netto kan 22 persen untuk semua bank. Harusnya ada perbedaan antara treasury bank yang sibuk dengan treasury bank yang tidak sibuk," ujarnya.
(mi/)











































