Demikian diungkapkan Sekretaris Jenderal Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) Mulyanto dalam konferensi persnya di Hotel Mulia, Kuningan, Jakarta, Kamis (17/2/2011).
"Sebenarnya dengan melakukan merger maka aset BPD akan masuk ke 4 besar. Itu menjadi salah satu solusi juga untuk menghadapi permodalan serta ekspansi kredit akan lebih besar," ujar Mulyanto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang ada sebuah kendala, yakni pemikiran dari pemgang sahamnya. Jadi istilahnya ketika nanti dimerger maka rasa kepemilikan daerah kepada BPD bisa hilang," tuturnya.
Maka dari itu, Mulyanto menekankan opsi merger hanyalah sebuah 'impian' BPD ke depan. Menurutnya, untuk menghadapi permodalan yang harus ditingkatkan menjadi 15% untuk Rasio Kecukupan Modal (CAR) opsi seperti penawaran saham perdana (IPO) dan penerbitan obligasi masih menjadi nomor satu.
Di 2011 Mulyanto mengungkapkan BPD menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 25%.
"Sampai Desember 2010 total aset BPD seluruh Indonesia mencapai Rp 239,14 triliun dari sebelumnya Rp 200,54 trilium atau tumbuh 19,24%. Volume kredit mencapai Rp 143,70 triliun dari sebelumnya Rp 120,75 triliun atau tumbuh 19,01%. Untuk DPK tercatat sebesar Rp 183,65 triliun dari sebelumnya Rp 152,25 triliun atau tumbuh 20,61%," tutup Mulyanto.
(dru/dnl)











































