Demikian disampaikan Menteri BUMN Mustafa Abubakar di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (18/2/2011).
"Pihak-pihak yang ingin melakukan pembiayaan cukup secara secara sindikasi," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada BNI, BRI, Mandiri. Nanti manakala pemerintah memutuskan ingin diambil. Ini kredit biasa. Porsinya, belum sampai situ," tuturnya.
Jika pengalihan Inalum benar dilakukan, Mustafa berharap 3 BUMN bisa memberikan suku bunga kredit yang lebih rendah, dibawah 2 digit.
"Bunga belum, tapi bunga bank bisa dibawah 10%, seperti yang sudah saya sampaikan," kata Mustafa.
Seperti diketahui Inalum merupakan sebuah perusahaan patungan antara Indonesia dengan Jepang, yang bergerak dalam industri aluminium dengan kapasitas produksi sekitar 230.000-240.000 ton per tahun.
Inalum merupakan satu-satunya perusahaan lokal yang bergerak di sektor produksi aluminium. Selama ini, hasil produksi Inalum sebagian besar dikirim ke Jepang, dan Indonesia sendiri harus mengimpor alumunium dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Sampai saat ini, calon pemilik baru Inalum yang menggantikan pemerintah Jepang adalah PLN dan Antam. Namun, Mustafa belum mendapat update terakhir dari hasil rapat pemerintah yang terjadi pada pukul 10.00 lalu.
"Inalum belum dapat laporan. PLN dan Antam, iya kemarin. Keterlibatkan PLN sepertinya belum. Antam masih dalam posisi ingin mendapatkan. Makanya rapat hari ini. Laporan ke saya nanti jam 2-3," tutupnya.
(wep/ang)











































