BI Siapkan Kebijakan Darurat Hadapi Inflow dan Ancaman Inflasi

BI Siapkan Kebijakan Darurat Hadapi Inflow dan Ancaman Inflasi

- detikFinance
Minggu, 20 Feb 2011 12:00 WIB
Padalarang - Bank Indonesia (BI) mempersiapkan beberapa kebijakan darurat untuk mengendalikan stabilitas ekonomi. Hal ini dilakukan seiring dengan derasnya modal masuk (capital inflow) dan ancaman inflasi yang tinggi.

Ketua Tim Outlook Jangka Pendek dan Diseminasi Kebijakan Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Endy Dwi Tjahyono menyebutkan masih terdapat tantangan pada tahun ini. Harga-harga yang masih menunjukkan tren kenaikan memberikan peningkatan tekanan inflasi. Apalagi ditambah dengan rencana pemerintah memberlakukan pembatasan BBM bersubsidi dan pelepasan capping industri.

Selain itu, arus modal asing akan terus masuk yang akan memberikan tekanan terhadap apresiasi rupiah. Tingginya ekses likuiditas pasar finansial dan risiko pembalikan modal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Capital inflow masih akan masuk, memberikan tekanan terhadap apresiasi rupiah. Akan berdampak di ekspor, termasuk pecahan moneter. Ini yang harus cermat dilihat," ujarnya dalam Seminar Moneter dan Sistem Keuangan di Hotel Mason Pine, Padalarang, Bandung, Sabtu (19/2/2011).

Untuk itu, lanjut Endy, BI akan melakukan kebijakan darurat dengan mengombinasikan instrumen-instrumen yang dimiliki BI."Ke depan BI akan melakukan kebijakan darurat. Tidak bisa kita melaksankan satu instrumen harus kombinasi," ujarnya.

Endy menyatakan kenaikan suku bunga BI rate secara terukur diperlukan untuk mengendalikan ekspektasi inflasi yang mulai meningkat sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan. Hal ini juga dilakukan beberapa negara Emmerging Market seperti Tahiland, Korea, Peru, Hungaria, dan India yang sudah meningkatkan suku bunganya 25 bps, Brazil menaikkan 50 bps.

"Instrumen suku bunga tetap kita lakukan untuk kebijakan moneter, naik secara bertahap 25 bps. Di negara emerging market juga melakukan pengetatan untuk itu, jadi kita tidak ingin dianggap tidak bertindak apa-apa menghadapi tekanan inflasi ini," ujarnya.

Selain itu, kebijakan nilai tukar rupiah akan dioptimalkan untuk membantu pengendalian inflasi terutama yang bersumber dari kenaikan harga komoditas global (impoted inflation).

"Instrumen lain dengan nilai tukar untuk menekan inflasi," ujarnya.

Endy menambahkan penguatan operasi moneter dan kebijakan makroprudensial akan dilanjutkan untuk pengelolaan likuiditas domestik sehingga mendukung kebijakan suku bunga dalam pencapaian sasaran inflasi.

"Pembatasan GWM, GWM LDR, pokoknya opsi yang ada di kita. Kita siap menempuh kebijakan darurat untuk menempuh tantangan tadi," ujarnya.

Namun, ketika ditanya mengenai kemungkinan menekan inflasi inti hingga 3 persen untuk mencapai asumsi inflasi tahun 2011 ini, Endy tidak memberikan kepastian. Dia hanya meyakinkan BI akan berupaya menjaga inflasi inti tidak lebih dari 5 persen. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan dalam pembahasan APBN 2011.

"Proyeksi kita 5 persen di 2011, kalau 3 persen, harus jauh 6,5 persen (BI Rate). Kita naik 25 bps sudah ribut. Kalau 3 persen upayanya harus lebih dari itu," tandasnya. (nia/dru)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads