BI Imbau Pengusaha Tak Panik Meski Dolar AS Menguat
Jumat, 21 Mei 2004 13:40 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) meminta kalangan pengusaha untuk tidak panik dan mencari keuntungan dari selisih kurs dengan memborong dolar AS secara besar-besaran. Hal tersebut dikhawatirkan dapat melemahkan nilai tukar rupiah. Kalangan pengusaha sebaiknya mencari untung dengan membeli reksa dana ketimbang membeli obligasi milik pemerintah AS. "Pengusaha tenang-tenang saja lah. Di Indonesia itu paling tinggi balas jasanya. Lebih baik cari balas jasa ke reksa dana daripada membeli obligasi milik pemerintah AS. Disitulah kalau cari untung, bukan dengan memindahkan ke dolar AS, " tegas Deputi Gubernur Senior BI Anwar Nasution di Jakarta, Jumat (21/5/2004).Memborong dolar untuk berinvestasi di obligasi milik pemerintah AS, menurut Anwar, adalah tindakan yang bodoh. Pasalnya mereka tidak akan mendapatkan keuntungan apa-apa. Selisih kurs pun, menurutnya, hanya sedikit. "Di reksa danalah harusnya mereka membalas jasa yang lebih menguntungkan," tegasnya.Diakui Anwar, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memang menjadi pisau bermata dua bagi kalangan pengusaha karena ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Namun sekali lagi, dia mengimbau agar pengusaha lebih realistis karena fundamental ekonomi Indonesia masih cukup bagus. Disamping itu cadangan devisa masih cukup besar dan perbankan sudah mulai sehat. Gejolak yang terjadi di mata uang, menurutnya, tak hanya menimpa rupiah tapi juga menimpa nyaris seluruh mata uang di dunia, seperti yen Jepang atau baht Thailand. Bergejolaknya mata uang itu terkait erat dengan kondisi perekonomian dunia, inflasi mulai tinggi dari sebelumnya yang terjadi deflasi. "Ini yang harus kita amati, perkembangan dunia internasional harus dicermati. Kita berharap inflasi dalam negeri masih dalam target. Tapi jangan lupa di seluruh dunia terjadi peningkatan inflasi, seperti Jepang, Cina. Ini akan berdampak pada ekonomi kita dan saya berharap rupiah kembali menguat," ujarnya.Mengenai bergejolaknya rupiah, menurut Anwar, selalu dicermati BI dengan menjaga stabilitas di pasar. Namun dipastikan BI tak akan menerapkan sistem devisa terkontrol atau mematok nilai rupiah dalam kisaran tertentu. "Yang kita kontrol adalah volatilitasnya. Jelas tugas BI hanya menjaga stabilitas, tapi tidak untuk memantek rupiah," kata Anwar.Sedangkan mengenai suku bunga SBI, dia memastikan sejauh ini BI belum akan menaikkannya mengingat belum adanya alasan tertentu untuk menaikkan suku bunga SBI yang kini ada di level 7,3 persen. "Tidak ada alasan, itu kan permintaan pasar. Apa mau dibuat tingkat suku bunga yang mencekik leher," kata Anwar sambil menambahkan tingkat suku bunga riil di Indonesia masih cukup tinggi karena diatas 2 persen.
(nit/)











































