BI Akui Bank Seenaknya Tetapkan Suku Bunga

BI Akui Bank Seenaknya Tetapkan Suku Bunga

- detikFinance
Senin, 28 Feb 2011 16:20 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai besaran bunga kredit bank khususnya bunga kredit korporasi, idealnya di bawah 10%. BI menilai terdapat perhitungan yang kurang sehat di internal perbankan dalam tingkat suku bunga.

"Kita sinyalir ada asimetric information, atau bank men-set harga seenak dia. Sehingga terjadi moral hazard," ujar Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Wimboh Santoso, di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (28/2/2011).

Dikatakan Wimboh, walaupun belum terdeteksi adanya kartel dalam penetapan suku bunga namun, 14 bank besar dinilai bersepakat untuk mematok suku bunga tertentu. Dengan adanya ketentuan publikasi Suku Bunga Dasar Kredit alias Prime Lending Rate diharapkan seluruh masalah tingginya suku bunga dapat diatasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sehingga, obatnya adalah transparansi suku bunga dasar kredit. Jangan sampai terjadi, set pricing oleh bank yang tidak transparan," ungkap Wimboh.

Wimboh mengatakan, suku bunga dasar kredit saat ini berada di kisaran 12%. Namun idealnya untuk kredit korporasi, lanjut Wimboh harusnya single digit atau di bawah 10%.

"Nah itu bagi perusahaan yang bagus atau perusahaan yang premi risikonya baik atau pernah mengeluarkan surat utang maka harusnya di bawah 10%. Tetapi jika yang perusahaan dengan premi risiko yang besar itu biasanya paling tinggi 13%-14%," jelasnya.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengeluhkan industri perbankan yang memberikan suku bunga seenaknya. Menurut para pengusaha suku bunga bank di Indonesia merupakan yang paling tinggi dibandingkan dengan negara lain.

"Bunga kredit kok tinggi sekali ini kan aneh ketika Bank Indonesia (BI) telah memberikan suku bunga acuan (BI Rate) di 6,75%," ujar Sofjan.

Ia menambahkan, suku bunga kredit yang dirasakan para pengusaha cukup tinggi di kisaran 20%. Sofyan juga mengeluhkan, perbankan Indonesia yang 40%-nya dikuasai asing sudah lagi tidak mementingkan industri ekonomi nasional.

"Bagaimana bank di Indonesia yang 40% memang dikuasai asing ini ada yang memberikan bunga hingga 20%. Itu sangat tidak realistis. Saya harap BI bisa mengkontrol bunga ini," tegas Sofyan.

(dru/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads