Menurut Boediono, bank harus kembali kepada tugas dasarnya yaitu membiayai kegiatan ekonomi di sektor riil. Bukan malah mencari keuntungan lewat aksi spekulasi.
"Saya kembali kepada prinsip konservatisme. Bank, ya, harusnya membiayai kegiatan ekonomi riil, bukan untuk berspekulasi di bidang-bidang yang mereka tidak tahu," ujar Boediono dalam acara Indikator Bisnis 2011 dengan tema Ancaman Inflasi dan Derasnya Modal Masuk di Pacific Place, Jakarta, Selasa (1/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan Gubernur Bank Indonesia tersebut juga mengatakan situasi keuangan dan perbankan di Indonesia sudah mengalami kemajuan cukup banyak sejak krisis 1998. Karena itu, ia mewanti-wanti kepada pelaku perbankan agar tidak tertarik dalam pengambilan risiko yang terlau tinggi di luar kegiatan perbankan.
Dalam kesempatan tersebut, Boediono juga mengingatkan perlunya asuransi diri sendiri atau self insurance dalam menghadapi krisis ekomomi. Cadangan devisa yang besar bisa menjadi self insurance.
"Cadangan devisa saya kira tetap kita pertahankan pada tingkat yang cukup, US$ 95 miliar akhir Januari, saya kira cukup baik. Kalau saya, seratus pun cukup baik, ini adalah self insurance," kata Boediono.
Menurut Boediono, dalam keadaan global yang makin tidak pasti, Indonesia harus mempunyai asuransi sendiri. Sebab, saat ini belum ada yang menjual polisnya kepada Indonesia untuk mengamankan diri terhadap badai krisis.
Self Insurance, lanjut Boediono, memang bukan solusi yang optimal, karena ada uang yang mandeg.
Namun, keadaan di luar sana mengharuskan adanya asuransi tersebut. Bila sudah ada framework di tingkat internasional tentang perlindungan dari krisis itu, maka self insurance tidak diperlukan lagi.
(irw/dnl)











































