Bank sentral mencatat BOPO perbankan alias rasio biaya operasional dibagi pendapatan operasional mencapai 88,6%. Tingginya BOPO tersebut salah satunya dikarenakan faktor biaya gaji yang tinggi.
Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Wimboh Santoso mengatakan semakin tinggi BOPO maka semakin dibilang bank itu tidak efisien.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wimboh memaparkan, perbankan di kawasan ASEAN yang memiliki tingkat BOPO rendah yakni Malaysia. Di mana, lanjut Wimboh rasio BOPO nya hanya sebesar 40%. "Itu berarti bank-bank di Malaysia sangat efisien," kata Wimboh.
Mengapa bisa paling efisien? Wimboh mengungkapkan teknologi yang digunakan sangat mumpuni dan gaji pegawai lebih efisien dan didukung oleh pendapatan yang tinggi. "Perbankan kita ada yang sudah maju teknologinya tapi kan ada banyak bank di mana sampai 122 bank oleh sebab itu secara agregat ya bank dengan teknologi maju tidak bisa mengangkat yang belum maju," kata Dia.
Lebih jauh Wimboh mengatakan, untuk menurunkan rasio BOPO maka kebanyakan bankir tidak ingin gajinya turun oleh karena itu bank harus mensiasati bagaimana meningkatakn produktivitas sehingga pendapatan lebih tinggi.
"Mana ada yang mau gaji diturunkan, lebih baik tingkatkan produktivitas sehingga pendapatan bisa lebih besar," paparnya.
Dari sisi Return On Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE) tercatat 2,3% dan 22,6%. Menurut Wimboh posisi tersebut juga paling tinggi di negara ASEAN. "Apalagi didukung oleh marjin bunga bersih (NIM) yang juga tinggi di posisi 5,7%. Ini berarti dapat disimpulkan bahwa perbankan Indonesia sangat profitable namun in-efficient," jelasnya.
Berikut data rasio BOPO perbankan di kawasan ASEAN :
- Indonesia = 88,6%
- Filipina = 74%
- Thailand = 54,3%
- Singapura = 42%
- Malaysia = 40%
(dru/dnl)











































