Perkuat Rupiah, Pemerintah Akan Lepas Aset dalam Dolar AS
Selasa, 25 Mei 2004 15:52 WIB
Jakarta - Menkeu Boediono menilai, pelemahan Rupiah hanya bersifat temporer. Meski demikian pemerintah akan melepas aset-asetnya yang berbentuk dolar AS ke pasar untuk memperkuat Rupiah."Menurut pandangan pribadi saya, gejolak dolar AS atas mata uang lain adalah gejala sementara. Dalam jangka menengah dolar justru akan menurun," kata Menkeu Boediono di kantor Ditjen Pajak, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (25/5/2004).Menurut Menkeu, penurunan dolar AS dalam jangka menengah disebabkan karena AS mengalami defisit harga yang sangat berat yakni disisi anggaran belanja dan neraca berjalannya. "Untuk mengatasi itu, hanya ada dua cara, suku bunga dinaikkan atau mata uang yang diturunkan. Jadi kemungkinan kombinasi keduanya. Itu kalau melihat dari perspektif jangka menengah," ujarnya.Oleh karena itu, lanjut Menkeu, dalam jangka pendek ini bisa saja Rupiah mengalami pelemahan maupun penguatan. Akan tetapi dirinya tidak terlalu merasa khawatir akan hal itu. "Saya tadi sudah bisik-bisik sama Dirjen Anggaran agar menjual aset dolar milik pemerintah. Kalau di APBN dipatok Rp 8.600 per dolar, kan saat ini bagus kalau kita melepas," katanya.Menkeu menambahkan, pemerintah kemungkinan akan merevisi asumsi dasar nilai tukar Rupiah. Namun Menkeu enggan menyebutkan pada kisaran berapa Rupiah akan dipatok. "Kisarannya berapa kita sedang lakukan excercise. Memang ada pengaruhnya pada defisit, nanti deh angkanya," tukas Menkeu.Sementara Dirjen Anggaran Depkeu Achmad Rochjadi mengatakan, pemerintah saat ini masih menginventarisasi aset-aset apa saja yang berbentuk dolar itu. "Kita masih inventarisir. Salah satunya kan penerimaan pajak ada yang berbentuk dolar," ungkapnya.Ditempat yang sama Dirjen Lembaga Keuangan Darmin Nasution menegaskan kembali dengan kenaikan harga minyak dunia hingga US$ 41 per barel, dipastikan pemerintah akan rugi Rp 1-1,5 triliun jika penerimaan itu dikurangi dengan membengkaknya subsidi dan kenaikan bagi hasil ke daerah. "Angka itu tidak terlalu besar pengaruhnya ke defisit," ujarnya.
(qom/)











































