Menkeu: Intervensi Takkan Efektif Dongkrak Rupiah
Rabu, 26 Mei 2004 14:52 WIB
Jakarta - Menteri Keuangan Boediono menegaskan, intervensi yang dilakukan untuk membendung melemahnya Rupiah saat ini akan percuma saja. Ini karena melemahnya Rupiah disebabkan oleh faktor eksternal dan kondisi politik diluar masalah ekonomi."Masalah kurs lebih banyak disebabkan politik yang tidak pasti. Ini sumbernya. Seyogyanya tentu diatasi bersama-sama dari segi politik karena akan sangat mahal ongkosnya kalau kita terus melakukan intervensi padahal sumbernya dari sumber lain diluar ekonomi. Jadi kita harus sama-sama baik eksekutif dan legislatif menjaga ini". Hal ini dikatakan oleh Menkeu Boediono dalam raker dengan Komisi IX DPR RI di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (26/5/2004)Namun Menkeu menekankan, pernyataannya tersebut bukan berarti partisan namun hanya untuk memperkuat situasi dalam negeri secara psikologis. Menurut Menkeu, antisipasi lain yang dilakukan pemerintah adalah memperkuat koordinasi dengan BI agar jangan sampai kedua pihak memberi sinyal yang berbeda-beda. "Jadi saat ini hubungan kita sangat erat. Untuk mengeluarkan statement saja kita selalu berhubungan untuk disinkronkan. Ini untuk menciptakan psikologis yang baik," ujar Menkeu.Selanjutnya Menkeu menghimbau semua pihak untuk tidak terlalu reaktif menyusul melonjaknya harga minyak dan bergejolaknya nilai tukar mengingat beberapa indikator ekonomi seperti PDB masih aman."Memang harga minyak masih ada ketidakpastian, sekarang harganya melonjak tinggi dan kalau toh turun mungkin tidak sampai satu tingkat dimana asumsi dipatok," tegasnya.Pemerintah sendiri yakin melemahnya Rupiah hanya akan berlangsung sementara karena dalam jangka menengah diyakini dolar AS akan melemah. Ini mengingat saat ini AS sedang menghadapi satu problem yang berat yakni defsit anggaran karena pengaluaran untuk militer yang sangat tinggi disamping defisit neraca perdagangan. "Jadi ini hanya satu fenomena yang akan segera berlalu. Dalam jangka menengah trendnya suku bunga akan naik dan dolar melemah. Ini bisa dilihat dari pergerakan dasar sehari-hari. Jadi masalah kurs barangkali akan segera berlalu," demikian Menkeu Boediono.
(qom/)











































