Anwar: Rupiah Melemah Karena Korporasi Panik
Jumat, 28 Mei 2004 15:21 WIB
Jakarta - Deputi Gubernur Senior BI Anwar Nasution mengatakan, melemahnya Rupiah yang semakin tajam lebih banyak disebabkan oleh ekpektasi yang berlebihan sehingga membuat korporasi panik dan melakukan pembelian dolar AS diatas ambang batas. Melemahnya Rupiah juga menggambarkan banyak hal yang perlu dibereskan dalam negeri.Menurut Anwar di Gedung BI, Jalan HM Thamrin, Jakarta, Jumat (28/5/2004), saat ini korporasi banyak melakukan pembelian diatas normal sehingga BI harus hati-hati mencermatinya. Berlebihnya likuiditas di perbankan nasional menurut Anwar membuat BI harus melakukan berbagai upaya untuk menyedot ekses likuiditas. "Restrukturisasi perusahaan di Malaysia, Thailand dan Korea lebih cepat dari kita sehingga kredit yang dikucurkan bank lebih tinggi dari kita. Kita sendiri LDR masih 43 persen. Lihat saja restrukturiasasi Texmaco 7 tahun tidak selesai-selesai, demikian juga dipasena. Lantas siapa yang akan minta kredit dari bank. Ini yang membuat bank mengalami ekses likuiditas," kata Anwar.Akibatnya, lanjut Anwar, bank mengalihkan dananya ke obligasi pemerintah dan SBI dan saat ini mereka juga sudah mulai bermain dalam pasar valas. "Kita harus cegah itu. BI sendiri sudah melakukan review apakah yang akan kita lakukan untuk meyedot ekses likuiditas bank, tapi kurs seara riil masih cukup kompetitif di luar negaeri. BI terus konsentrasi soal ini," tambahnya.Saat ditanya bagaimana tindakan yang dilakukan BI untuk meredam makin melemahnya Rupiah, Anwar mengungkapkan, salah satu langkahnya adalah menambah pasokan dolar AS di pasar. Selain itu BI juga melakukan koordinasi dengan Depkeu dan dunia usaha termasuk Pertamina disamping meredam ekses likuiditas bank dengan mengadsorb dana dari kalangan pengusaha.Fitch Naikkan Peringkat Utang RIDalam kesempatan tersebut Anwar juga mengungkapkan, Lembaga Pemeringkat Internasional Fitch akan menaikkan peringkat utang Indonesia. Namun kapan tepatnya, Anwar mengaku belum tahu. Yang pasti, kata Anwar, rating itu lebih baik dari posisi saat ini yang stabil.Saat ditanya apa dasar Fitch menaikkan rating Indonesia tersebut, Anwar mengatakan karena Fitch melihat perekonomian Indonesia secara fundamental sudah cukup bagus yang terlihat dari pertumbuhan ekonomi kuartal I yang cukup tinggi, defisit yagn terkendali, inflasi terkendali dan perbankan nasional yang masuk masuk kategori cukup sehat.
(qom/)











































