Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono mengatakan, saat ini kondisi neraca berjalan Indonesia masih surplus dan inflasi inti terjaga di level 4,36%. Sehingga ekonomi Indonesia masih aman.
"Overheating biasanya, Anoop Singh (Direktur IMF Asia Pacific) bilang, kalau output gap-nya mengecil, demand meningkat, suplai terbatas. Untuk kita overheating belum kita lihat prioritasnya. Karena inflasi inti masih rule of thumbs (terjaga), kita jaga di bawah 5%," jelas Hartadi di sela forum berdiskusi 'Coping With Asia's Large Capital Inflows In A MultiiSpeed Global Economy' di Hotel Grand Hyatt, Nusa Dua, Bali, Jumat (11/3/2011)..
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Justru BI melihat potensi untuk menyegarkan demand dengan cara menambah pasokan barang sehingga inflasi bisa ditekan. "Bukan demand ditekan, tapi suplai yang ditambah. Demand yang disesuaikan," tuturnya.
Hal yang sama disampaikan Ekonom Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan. Tidak ada alasan, ekonomi Indonesia 'kepanasan' selama neraca berjalan tercatat masih surplus.
ββ"Neraca berjalan masih surplus. Inflasi inti masih di bawah 5%. Belum overheating. Memang inflasi tinggi tapi pangan yang terpicu karena konflik politik. Kalau Timteng meluas ke negara lain, Iran, Arab, harga minyak akan lebih tinggi. Akibatnya inflasi dunia naik tidak hanya Indonesia. Jadi beda dengan ekonomi overheating, sehingga inflasi inti naik," tambah Fauzi.
Bank Sentral pun, dianggap Fauzi sudah tepat menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate secara bertahap. Ini sekaligus menunjukkan perhatian BI untuk mengatasi ekspektasi inflasi.
Sebelumnya, Harpel Professor of Capital Formation & Growth, Harvard University, Jeffery Frankel mengatakan, saat arus modal terus masuk ada ancaman jangka pendek yang bisa terjadi yaitu overheating, dan Indonesia memiliki peluang tersebut, karena penetrasi pertumbuhan ekonomi dan rasio inflasi yang terus meningkat.
Setiap negara berkembang harus mewaspadai kemungkinan krisis akibat overheating tersebut. Berdasarkan analisa Jeffrey, saat terakhir krisis besar di 1997, maka periode berikutnya adalah di 2012.
Overheating memang menjadi penanda pertumbuhan ekonomi suatu negara terus melaju. Sebagai konsekuensinya, tingkat inflasi juga akan merangkak naik. Ini tergambar dalam materi Jeffery dalam presentasi di hadapan 200 peserta forum.
Sejatinya, tidak hanya Indonesia. Tapi China, India, dan Singapura juga mengalami gejala overheating akibat aliran modal. Bagi negara berkembang pun, dengan adanya overheating dimungkinkan terjadi krisis di 2012, yang merupakan siklus 15 tahunan.
(wep/dnl)











































