PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) berniat mengincar salah satu dari dua perusahaan BUMN yang bergerak di insititusi keuangan yaitu PT Bahana Securities dan PT Danareksa Securities. BNI bermimpi untuk 'tukar guling' salah satu perusahaan tersebut dengan obligasi rekap senilai Rp 17 triliun.
Direktur Utama BNI Gatot Suwondo mengungkapkan ide tersebut telah muncul sejak 2008, namun belum ada tanggapan dari pemerintah.
"Kita punya Ide, kan kita punya rekap bond Rp 17 triliun yang yield-nya itu mengikuti SBI gitu terus. Untuk optimalisasi ini bisa tidak jika ditukar dengan ownership di perusahaan BUMN dalam industri keuangan. Nah waktu itu ngga ada respon," ujar Gatot disela acara Konferensi Pers Kinerja 2010 di Gedung BNI, Jalan Sudirman, Jakarta, Rabu (16/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kan ada perusahaan BUMN yang bergerak di sisi institusi jasa keuangan, BNI itu sendiri memilih yang mana yang in-line dengan bank. Kan yang paling sejalan itu ada Bahana sama Danareksa. Jika asuransi yang dipilih misalkan Jasindo kita tidak bisa ambil karena ada BNI Life," tambahnya.
Dikatakan Gatot jika akusisi tersebut dilakukan dengan diubah menjadi saham di salah satu perusahaan yang punya sinergi dengan BNI maka return-nya akan lebih tinggi.
"Maka semua pihak senang, Menkeu senang karena utang turun. Kan rekap bond itu utang pemerintah sama BNI waktu 1998 lalu," jelas Gatot.
Pada kesempatan yang sama Direktur Keuangan BNI Yap Tjay Soen mengatakan terkait divestasi anak usaha BNI yakni BNI Securities, Ia mengatakan belum ada kesepakatan dengan investor strategis.
"Walaupun sudah ada banyak investor namun belum ada kesepakatan," kata Yap.
Dikatakan Yap, investornya tersebut nantinya yang membawa uang dan yang jelas memberikan reputasi baik dan bawa nama besar BNI.
"Tetapi semua belum, kan harus signing harus terjadi dulu kemudian harus lapor ke Bapepam terlebih dahulu. Ya saya kita dalam waktu tidak terlalu jauh ada lagi," katanya.
(dru/ang)









































