Hal ini disampaikan oleh Ketua Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Sigit Pramono ketika ditemui di kantor Bank Indonesia (BI), Jalan Thamrin, Jakarta, Jumat (18/3/2011).
"Saya kira kalau gaji itu hal yang sangat sensitif untuk dibicarakan. Yang paling penting bahwa kalau gaji di perusahaan swasta itu kan urusan pemilik dengan pemegang saham. Kalau memang banknya bagus dan NPL (kredit bermasalah) rendah di bawah 1%, serta laba bagus, maka tidak apa-apa gaji tinggi," tutur Sigit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kan kalau bankir di Indonesia, banknya secara relatif bagus-bagus melihat NPL nasional 2,56% itu kan paling bagus, LDR 77%, ada yang belum mencapai 78% ya harus terus dikejar. Itu terlalu relatif, kan nggak bisa dibandingkan begitu saja, terlalu sensitif membahas soal gaji," kata Sigit.
Namun kalau gaji bankir besar tapi banknya nggak bagus, ya itu memang harusnya menjadi perhatian. "Tapi ini kan pasar tenaga kerja. Bankir kan pindah-pindah untuk mencari (gaji) besar," ujar Sigit.
Sebelumnya, BI mengungkapkan perbankan di Indonesia bisa dibilang yang paling boros dibandingkan negara lain di kawasan ASEAN. Bank sentral mencatat BOPO perbankan alias rasio biaya operasional dibagi pendapatan operasional mencapai 88,6%.
Tingginya BOPO tersebut salah satunya dikarenakan faktor biaya gaji yang tinggi.
(dnl/qom)











































