Mengumpulkan Bankir Saja Susah, Apalagi Mau Kartel

Mengumpulkan Bankir Saja Susah, Apalagi Mau Kartel

- detikFinance
Jumat, 18 Mar 2011 16:02 WIB
Jakarta - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengendus adanya kartel yang dilakukan 14 bank. Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) pun berkeluh kesah ke BI atas tudingan KPPU itu.

Ketua Perbanas Sigit Pramono menegaskan tidak ada kartel di dalam industri perbankan terkait masalah apapun termasuk suku bunga.

"Bukan sekedar curhat, tapi kita berikan masukan. Dimana tidak ada kartel, saya sudah sampaikan ke Pak Gubernur BI bahwa tidak ada kartel," ujar Sigit ketika ditemui di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (18/3/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Sigit, persaingan antara sesama bank yang cukup tinggi membuktikan bahwa tidak ada sama sekali 'persekongkolan' mengenai tingkat bunga. Bahkan, Sigit menuturkan sesama bank saling menggaet nasabah.

"Mengumpulkan bankir aja susah, apalagi kumpul untuk bersepakat saya jamin tidak ada. Kartel yang dituduhkan itu nggak ada, dimana bank yang kumpul menetapkan suku bunga bersama," tegas mantan Dirut BNI itu.

"Karena pesaingan sangat tinggi apalagi ditingkat korporasi terutama. Malah mereka akan berebut nasabah yang perusahaanya bagus-bagus, sekarang kredit konsumer, KPR pasti ya tidak akan sepakat dalam menentukan bunga," imbuh Komisaris BCA ini.

Lebih jauh Sigit mengatakan, yang paling penting saat ini adalah dimana perbankan harus menciptakan konsidi persaingan yang sangat sehat. Bank nantinya akan semakin efisien, sehingga perbankan akan menetapkan suku bunga kredit yang lebih rendah.

"Namun perlu diingat, efisiensi tidak bisa dicapai dalam satu malam. Karena butuh program lanjutan disamping memang kita melihat inflasi masih tinggi, biaya akan tinggi, tenaga kerja juga akan tinggi," paparnya.

Sigit juga menceritakan, faktor dimana efisiensi sulit dilakukan karena tingkat biaya dana yang masih besar. Salah satunya dikarenakan tingkat keamanan di sebuah bank yang perlu dijaga.

"Kan kalau di negara-negara lain nggak perlu ada satpam karena tingkat kemanan tinggi. Kita aja ATM bisa digondol orang kalau nggak ada satpam. Beda deh kita dengan negara lain Singapura, tidak bisa dibandingkan memang secara operasioal kita lebih mahal biayanya," tegas Sigit.

Sebelumnya, KPPU menyatakan akan membentuk tim monitoring khusus untuk mencari dampak mengapa industri perbankan di Indonesia tidak efisien alias 'boros'. Inefisiensi tersebut akhirnya akan membentuk tingkat suku bunga yang tinggi. KPPU juga mengendus adanya indikasi praktek persaingan tidak sehat yang dilakukan oleh 14 bank besar.

Pasalnya struktur perbankan Indonesia kini dikuasai oleh 14 bank besar yang masuk ke dalam Systematically Important Bank (SIB), sehingga menimbulkan adanya praktek tidak sehat yang diderita 100 bank lain seperti tingkat suku bunga.

(dru/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads