RI Jajakan Global Bond ke 3 Negara

RI Jajakan Global Bond ke 3 Negara

- detikFinance
Senin, 21 Mar 2011 14:16 WIB
RI Jajakan Global Bond ke 3 Negara
Jakarta - Pemerintah Indonesia mulai menjajakan obligasi global atau global bond ke 3 negara yakni Swiss, Inggris, dan AS. Di depan para investor tiga negara tersebut, pemerintah menyampaikan rencana pembiayaan defisit anggaran tahun ini.

Demikian disampaikan oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Bambang Brodjonegoro ketika ditemui di Gedung Bank Indonesia, Jalan Thamrin, Jakarta, Senin (21/3/2011).

Dari roadshow di 3 negara tersebut, pemerintah mengakui tantangan ekonomi Indonesia saat ini adalah inflasi akibat lonjakan harga pangan dan minyak. Meski begitu, Bambang mengtaakan investor di 3 negara tersebut siap membeli obligasi berdenominasi dolar AS yang akan dilepas pemerintah Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Investor sangat antusias dan tak ada masalah. Untuk besaran 9obligasi) kita harus lihat kondisi pasarnya," jelas Bambang.

Jadi pemerintah belum memutuskan berapa besar obligasi yang akan dilepas tersebut. Bambang juga mengatakan, rencana penerbitan obligasi global ini tak akan tersaing dengan rencana Jepang meningkatkan utangnya guna merehabilitasi negaranya pasca gempa dan tsunami.

Seperti diketahui, pemerintah telah menunjuk untuk menjajakan surat utang global (global bond) yang rencananya akan dilaksanakan pada kuartal II-2011 ini. Ketiga sekuritas itu adalah JP Morgan, Deutsche Bank, dan UBS

"Kalau Jepang saya yakin mereka bisa self finance (membiayai sendiri). Yang sekarang dilihat adalah kondisi pasar yang masih bergerak mengikuti Jepang. Karena itu roadshow kita sifatnya non deal, dan belum mengambil keputusan apa-apa," papar Bambang,

Obligasi yang akan diterbitkan di luar negeri ini bakal memiliki tenor jangka panjang. Karena para investor lebih suka yang jangka panjang.

"Potensi pasar (obligasi global) ini besar. Semua melihat performance Indonesia cukup bagus. Jadi kondisi relatif bagis dari sisi permintaan, kita tidak ada masalah," katanya.

(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads