Stanchart Minati Divestasi Bank Permata

Stanchart Minati Divestasi Bank Permata

- detikFinance
Sabtu, 05 Jun 2004 16:34 WIB
Jakarta - Meski belum mengajukan surat resmi pada Perusahaan Pengelola Aset (PPA), Standard Chartered Bank (Stanchart) Indonesia mengaku berminat ikut divestasi PT Bank Permata Tbk (BNLI). "Tidak tertutup kemungkinan ikut divestasi Bank Permata, tapi kami belum mengajukan surat resmi hanya pernah berbicara lisan dengan Ketua PPA Syahrial saat acara Euro Money di London," kata Chief Executive Officer (CEO) Stanchart Indonesia, Stewart D Hall disela acara Wealth on Wealth (WoW) yang merupakan program edukasi investasi untuk nasabah di Plasa Senayan Jakarta, Sabtu,(5/6/2004).Menurut Stewart, ketertarikan pihaknya terhadap divestasi Bank Permata, karena perseroan bisa melebarkan ekspansi usahanya dan meningkatkan petumbuhan. Apalagi, Bank Permata merupakan bank yang terus tumbuh dan berkembang dan bisa dijadikan partner untuk diversifikasi produk. Seperti diketahui, DPR telah menyetujui divestasi 71 persen Bank Permata, dimana sebesar 51 persen akan dilepas melalui strategic investor dan 20 persen lewat pasar. Sebelumnya, pada tahun 1999 Stanchart pernah juga berminat terhadap Bank Bali yang kini telah dilebur kedalam Bank Permata namun batal.Bantah Spekulasi ValasMengenai tudingan Stanchart ikut bersepkulasi dalam transaksi foreign Exchange (forex) atau valuta asing (valas) yang menyebabkan rupiah melemah, menurut Stewart hal tersebut tidak benar."Memang kami adalah salah satu bank yang aktif untuk transaksi forex, tapi tidak berspekulasi semuanya masih dalam batas kewajaran dan sesuai peraturan BI," ujarnya.Pihak Bank Indonesia (BI) juga kata Stewart, telah datang dan mengecek semua transaksi forex Stanchart yang ternyata masih sesuai peraturan. "Net Open Position (NOP) kami pun hanya sebesar 5 persen, jauh diatas maksimal BI yang sebesar 20 persen," katanya.Menurut Stewart, secara fundamental ekonomi Indonesia cukup baik. Maka itu dia menilai melemahnya rupiah hanya bersifat sementara dan bisa kembali normal jika kondisi politik dan global kembali stabil. (ir/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads