52% Portofolio Bank Masih Berputar di Sektor Keuangan
Senin, 07 Jun 2004 12:11 WIB
Jakarta - Sebanyak 52 persen portofolio aset perbankan nasional hingga kini masih berputar di sektor keuangan seperti SBI sebesar Rp 133,2 triliun (12,3 persen) dan surat-surat berharga sebesar Rp 354,9 triliun (32,9 persen). Sedangkan penanaman dalam bentuk kredit hanya 46 persen dari total aktiva produktif bank. Itu pun masih didominasi kredit konsumsi.Hal ini disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah dalam sambutannya dalam workshop tentang Prospek Dunia Usaha dan Pembiyaan oleh Perbankan di Gedung BI, Jl. MH. Thamrin, Jakarta, Senin, (7/6/2004).Sesuai ketentuan API, lanjut Burhan, BI akan bersikap tegas dalam menangani bank terkait dengan hal itu, sehingga bank lebih berhati-hati lagi dalam mengelola likuiditasnya."Ini untuk mendorong bank semakin berhati-hati dengan cara antara lain melakukan penyesuaian atas portofolio asetnya termasuk dengan menambah penempatan pada aset yang lebih likuid dan berisiko rendah seperti SBI dan obligasi pemerintah," kata Burhan.Oleh karena itu, lanjut dia, tidak mengherankan kalau potrtopolio aset sektor peerbankan masih didominasi penanaman dalam bentuk SBI dan surat berharga.Burhan menilai dalam kondisi likuiditas yang berlimpah dana perbankan nasional ternyata kebanyakan masih berputar-putar di sektor keuangan bukan sektor riil dan produksi.Padahal, perbankan tidak bisa terus menerus bergantung pada penyaluran kredit konsumsi dan penempatan di pasar uang sebagai sumber utama pendapatan."Tanpa peningkatan investasi yang dapat menciptakan peningkatakan kesempatan kerja lambat alun konsumsi masyarakat tentu turun karena penghasilannya yang turun," kata dia.Burhan menilai saat ini kondisi ekonomi makro sudah mulai membaik dan berbagai upaya pemulihan dalam kerangka restrukturisasi perbankan telah menunjukkan hasil yang ditunjukkan lewat sejumlah indikator industri perbankan, di mana per April 2004 rata-rata rasio kecukupan modal (CAR) bank telah mencapai 22,4 persen, kredit bermasalah (NPL) sudah berada di kisaran 2 persen, dan dana pihak ketiga (DPK) juga terus mengalami peningkatan.Namun untuk LDR masih berkisar di angka 45 persen. Secara total jika dibandingkan dengan PDB, suplai kredit perbankan masih berkisar di angka 25 persen dari PDB yang berarti masih jauh dari angka sebelum krisis yang mecapai 75 persen dari PDB.Saat ini, kata Burhan, BI dan pemerintah tengah membangun satu jaring pengaman sektor keuangan untuk mendukung stabilitas sektor keuangan. Framework ini merupakan embrio dari UU Jaring Pengaman Sektor Keuangan.Bagian utama dari framework ini adalah menyiapkan infrastruktur sistem keuangan yang komprehensif seperti LPS, biro kredit, lembaga rating dan lain-lain."Dengan berfungsinya infrastruktur dengan baik, saya yakin perkembangan fungsi intermediasi yang selama ini terhambat akan kembali normal karena risiko kredit dan operasional usaha bank dapat diminimalisir," katanya.
(mi/)











































