BI: Yang Bisa Tahu Ada Kolusi Hanya Dukun

BI: Yang Bisa Tahu Ada Kolusi Hanya Dukun

- detikFinance
Kamis, 07 Apr 2011 07:59 WIB
BI: Yang Bisa Tahu Ada Kolusi Hanya Dukun
Jakarta - Bank Indonesia (BI) menjadi 'bulan-bulanan' oleh para Anggota DPR karena kasus pembobolan dana nasabah Citibank oleh mantan Relationship Manager (RM) Malinda Dee. Bank sentral dinilai tidak memiliki metode early warning system alias rambu peringatan dini terhadap pembobolan dana nasabah perbankan oleh pejabat bank.

BI sendiri menilai kasus pembobolan dana nasabah Malinda Dee merupakan bentuk kolusi yang dilakukan. Oleh sebab itu, bank sentral berkilah kasus kolusi di industri perbankan tidak akan bisa terdeteksi menggunakan sistem dengan teknologi canggih apapun.Β Β 

"Itu yang berkali-kali saya katakan yang banyak tidak dipercaya kawan-kawan DPR ini, sulit kalau sudah kolusi itu," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia S Budi Rochadi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu Malam (6/4/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sistem itu sudah dibuat dengan baik, eh jika ada kolusi, kan gitu, sulit itu. Yang bisa tahu hanya dukun," imbuh Deputi BI bidang Sistem Pembayaran ini.

Budi Rochadi mengatakan, bank sentral pasti akan melakukan review secara mendalam dan memperbaiki sistem private banking kedepan. Tetapi, Budi Rochadi mengakui juga bahwa bank sentral terlalu mempercayai Citibank. Hal ini didasarkan ketika pengawas BI meminta melakukan rotasi RM Citibank untuk digantikan secara rutin tetapi tidak dilakukan oleh Citibank.

"Kita nanti perbaikilah, kita semua perbaiki. Kita ada kelemahannya dalam pengawasan ini. Mengapa kok kita terlalu mudah percaya dengan alasan dari bank ini mungkin kita akan lebih strong. Rekomendasi kita akan lebih strong kedepan," paparnya.

Ditempat yang sama Anggota Komisi XI Maruarar Sirait mengatakan kasus pembobolan dana nasabah seperti ini menjadi kelemahan bank sentral. Pasalnya sebelum kasus Citibank, ada juga oknum atau pemilik Bank Century yang membobol juga dana para nasabahnya.

"Ini kan jadi terlihat, lagi-lagi BI tidak bisa mengawasi lebih baik. Ini jadi kelemahan BI untuk lagi dan lagi dibobol," tutur Maruarar.

Politisi PDIP ini mengancam untuk mengurangi anggaran teknologi early warning system ketika sebuah oknum masih mempunyai celah untuk melakukan kejahatan. "Lebih baik dikurangi anggaran-anggaran soal early warning system di BI karena semua percuma," kata Maruarar.

Seperti diketahui, dua kasus yang membeli Citibank membuat bank yang bermarkas di AS ini dipanggil DPR. Dua kasus yang menggegerkan adalah penggelapan dana nasabah oleh Malinda Dee alias Inong Malinda yang merupakan mantan relationship managernya dan bertugas menangani nasabah-nasabah kaya. Kasus lainnya adalah tewasnya Irzen Octa selagi mengurus tunggakan kartu kreditnya, dan diduga akibat perlakuan kasar debt collector yang disewa Citibank dari pihak ketiga.

(dru/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads