ASEAN Bentuk Lembaga Keuangan 'Saingan' IMF

ASEAN Bentuk Lembaga Keuangan 'Saingan' IMF

- detikFinance
Kamis, 07 Apr 2011 14:30 WIB
ASEAN Bentuk Lembaga Keuangan Saingan IMF
Nusa Dua - ASEAN plus 3 (China, Korea Selatan, dan Jepang) membentuk lembaga pengawas keuangan baru bernama ASEAN Plus 3 Macro Economic Research Office (AMRO) sebagai 'saingan' International Monetary Fund (IMF).

"Terakhir dalam pertemuan deputi Menteri Keuangan kemarin sudah disepakati lembaga yang merupakan lembaga surveillance namanya AMRO. ASEAN Plus 3 Macro Economic Research Office," ujar Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal Bambang Brodjonegoro saat ditemui di sela acara ASEAN Finance Ministers Meeting (AFMM) di Nusa Dua, Bali, Kamis (7/4/2011).

Bambang menyatakan lembaga ini berfungsi sebagai lembaga pertahanan pertama sebelum sampai ke tangan IMF, ketika negara-negara ASEAN plus 3 mengalami masalah keuangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi lembaga yang terus mengawasi bagaimana perkembangan keuangan, terutama di negara-negara ASEAN, dan memberikan early warning kalau salah satu negara misalkan dalam kondisi yang memerlukan support. Ketika suatu negara membutuhkan support, AMRO akan mengeluarkan rekomendasi setelah menerima permintaan dari negara yang bersangkutan," tutur Bambang.

Namun, lanjut Bambang, lembaga ini hanya bisa membantu pada skala tertentu. Jika dianggap dukungan yang dibutuhkan terlalu besar maka IMF yang akan mengambil alih.

"Kemudian skema Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM) bisa berjalan sampai jumlah tertentu. Nanti diperlukan keterlibatan IMF kalau misalkan skala gangguan dianggap terlalu besar. Jadi AMRO itu semacam first line of defence untuk Asia Tenggara," ujarnya.

Bambang menyatakan besar kecilnya kasus tergantung negaranya masing-masing. Jika dianggap bisa diatasi atau berisifat umum maka AMRO bisa menanganinya.

"Misalnya, penurunan cadangan devisa katakanlah US$ 1 miliar di Indonesia dan negara ASEAN yang lebih kecil lain, kan beda. Di Indonesia mungkin tidak terlalu terpengaruh, tapi di negara lain mungkin besar. Sehingga di situlah nanti AMRO akan menentukan berapa besar mereka akan masuk. AMRO akan merekomendasikan berapa CMIM akan dipakai," paparnya.

Sebagai setoran awal pada lembaga ini, tambah Bambang, sebesar US$ 120 miliar. Namun, ke depannya diharapkan dana tersebut dapat bertambah seiring dengan semakin banyaknya sokongan dana dari negara-negara besar yaitu China, Korea Selatan, Jepang, dan Singapura.

"Dari negara-negara lain diharapkan ada tambahan, sehingga CMIM menjadi lebih besar. Jadi AMRO dan CMIM saling memperkuat. Kalau AMRO semakin kuat, CMIM juga semakin besar. Negara-negara percaya CMIM bisa menjadi mekanisme yang menjaga kestabilan ekonomi di Asia Tenggara," jelasnya.

Bambang menyebutkan AMRO akan mulai beroperasi pada 1 Mei mendatang dengan berlokasi di Singapura. Sebagai ketua adalah China dan Jepang yang akan memimpin lembaga ini secara bergantian.


(nia/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads