Berdasarkan survei perbankan yang dilakukan Bank Indonesia (BI) yang dikutip, Senin (11/4/2011), ada tiga penyebab perbankan menghindari pengucuran kredit untuk sektor tekstil.
Pertama harga bahan baku yang berfluktuasi, lalu maraknya produk tekstil impor, dan terakhir ketatnya persaingan industri ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan metoda 'Saldo Bersih Tertimbang' (SBT) yakni jawaban responden dikalikan dengan bobot kreditnya (total 100%), selanjutnya dihitung selisih antara persentase responden yang memberikan jawaban meningkat dengan yang memberikan jawaban menurun.
Berdasarkan survei ini, permintaan kredit baru masih meningkat pada triwulan II-2011. Kredit perbankan diperkirakan akan meningkat sekitar 7,9% dibandingkan dengan target triwulan sebelumnya.
Masih tingginya rasio kecukupan modal bank disertai dengan menurunnya risiko penyaluran kredit diyakini perbankan menjadi alasan internal utama yang mendorong penyaluran kredit di 2011.
Sementara meningkatkan kemampuan nasabah dalam membayar pinjaman, bersama dengan kebijakan suku bunga perbankan merupakan alasan eksternal utama yang melandasi ekspektasi tersebut.
Adapun yang bakal menjadi target pemberian kredit baru perbankan di 2011 adalah sektor perdagangan, disusul oleh sektor industri pengolahan dan jasa dunia usaha.
"Namun berdasarkan hasil survei, persepsi perbankan terhadap industri tekstil diperkirakan belum akan mengalami perubahan. Potensi kredit macet pada industri tekstil masih dianggap cukup tinggi," ujar survei tersebut.
Di akhir 2011, pertumbuhan kredit perbankan diperkirakan mencapai 22,5-24,1%.
(dnl/hen)











































