"Nilai tukar rupiah semakin menguat, saya baru dapat laporan dari financial board saya hingga saat ini defisit anggaran sudah Rp 7 triliun," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ardhayadi Mitroadmodjo di sela acara Seminar Laporan Keuangan Bank Sentral di FEUI, Depok, Jawa Barat, Kamis (21/4/2011).
Dikatakan Ardhayadi, nilai tukar rupiah terus menguat seiring derasnya arus aliran modal asing. Bahkan, lanjut Ardhayadi peluang Indonesia untuk masuk ke investment grade yang terbuka lebar ke depan akan menambah penguatan nilai tukar rupiah tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih jauh Ardhayadi mengatakan, bank sentral terus memperbaiki neraca keuangannya dalam hal pengelolaan defisit dan surplus.
"Kalau dilihat defisit dan surplus memang BI kan tidak mencari laba, tetapi kita terus mengusahakan dan memanage dengan baik defisit tersebut," kata dia.
Ardhayadi menjelaskan, anggaran BI yang paling besar memang dalam beban operasi moneter di mana mencakup beban pengelolaan devisa untuk menstabilkan nilai rupiah melalui sterilisasi alias intervensi.
Berdasarkan kurs tengah BI, nilai tukar rupiah saat ini berada di posisi Rp 8.657/US$ atau menguat dibandingkan pada hari sebelumnya yakni pada Rabu (19/4/2011) yang tercatat sebesar Rp 8.686/US$.
(dru/dnl)











































