Soal Rupiah, Menkeu dan Laks Diimbau Tegur Pertamina
Sabtu, 12 Jun 2004 17:48 WIB
Jakarta - Menkeu Boediono dan Menneg BUMN Laksamana Sukardi seharusnya secara berani menegur Pertamina yang diketahui memborong 200 juta-300 juta dolar AS di pasar. Ulah Pertamina ini ditengarai turut memperburuk kondisi rupiah yang pada Jumat, kemarin berada di posisi Rp 9.370/dolar AS.Imbauan itu disampaikan pengamat ekonomi Dradjat H. Wibowo usai diskusi paltform ekonomi capres-cawapres di Hotel Peninsula, Jl. S. Parman, Jakarta, Sabtu, (12/6/2004).Selain Pertamina, kata Dradjat yang juga anggota tim ekonomi pasangan capres-cawapres Amien Rais-Siswono Yudohusodo, juga ada perusahaan besar dan bank besar di dalam negeri yang diketahui memborong dolar AS."Pasar di kita kan sangat tipis, hanya sekitar 200 juta dolar AS. Jadi bisa dibayangkan kalau Pertamina memborong 200-300 juta dolar AS dalam dua minggu terakhir ini, tentu membuat rupiah semakin parah," katanya.Dradjat mengaku bisa mengerti dengan kebutuhan dolar AS Pertamina yang cukup tinggi untuk memenuhi kewajibannya. Namun, yang disayangkan, sebetulnya kebutuhan dolar AS Pertamina baru akan terjadi 2-3 bulan lagi."Jadi Menkeu Boediono dan Menneg BUMN Laksamana Sukardi harusnya bisa mengatakan secara berani kepada Pertamina kalau Pertamina tidak perlu takut karena kebutuhannya masih 2-3 bulan lagi," katanya.Untuk perbankan sendiri, kata dia, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena Bank Indonesia (BI) sudah mengeluarkan aturan untuk menarik likuiditas yang berlebih sehingga bank tidak bisa melakukan spekulasi dengan dana lebih yang dimilikinya.Di sisi lain, Dradjat mengakui, posisi rupiah memang sangat rentan. Pasalnya, ketika dolar AS melemah sekitar 10 persen terhadap euro seharusnya rupiah menguat antara 9-10 persen. Sehingga ketika dolar AS menguat 16 persen terhadap euro, volatilitas rupiah tidak terlalu tajam. Sayangnya rupiah hanya menguat 6 persen."Jadi sebenarnya ini fenomena yang khas bahwa rupiah tidak sekuat yang dibayangkan. Jadi pemerintah atau pengusaha jangan terlalu gembira dulu jika rupiah menguat atau melemah. Karena rupiah sangat rentan terhadap faktor luar," katanya.
(mi/)











































