Menurut Sekjen BPP impunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) M.Ridwan Mustofa, perbankan masih khawatir akan lonjakan NPL. Dimana, pengusaha baru terpinggirkan dalam kesempatan mendapat kredit.
"Perbankan takut disorot NPL-nya. Punya NPL 3% saja menjadi sorotan media. Padahal dengan 5% saja masih wajar. Semua pihak semestinya memahami tujuan diluncurkannya KUR oleh pemerintah, yakni untuk membantu UKM pemula dan kekurangan modal," kata Ridwan dalam rilis yang diterima detikFinace, Minggu (8/5/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau NPL-nya sudah diklaim ke perusahaan penjaminan kan tidak lagi menjadi beban perbankan. NPL akan turun dengan sendirinya," ucapnya.
Rasio kredit bermasalah dalam skema KUR juga sangat rendah, masih sekitar 5%. Mayorias masih berstatus kredit sehat. "Kita fokus kepada dampak yang jauh lebih positif dari KUR yakni 95% KUR ini sehat dan mereka menggerakan ekonomi kita. Hipmi mendorong agar KUR kepada pengusaha pemula harus lebih ditingkatkan," tuturnya.
Hipmi juga menyoroti agar rasio modal perusahaan penjamin ditingkatkan dua kali lipat. Perusahaan penjamin yang dimaskud adalah Askrindo dan perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo) berupa penyertaan modal negara (PMN).
"Hipmi usul supaya lebih besar lagi masing-masing Rp 2 triliun, jadi totalnya Rp 4 triliun. Supaya bank lebih pede salurkan KUR," timpal Ketua Bidang Perdagangan BPP Hipmi Harry Warganegara.
Saat ini, permodalan yang minim menjadikan klaim bank penyalur KUR juga sering telat dibayarkan. Bahkan tertunda hingga tiga bulan. "Ini yang membuat bank kemudian mengerem penyaluran KUR," katanya.
Data Hipmi Research Center terlihat, Askrindo dan Perum Jamkrindo hingga Februari 2011 telah merealisasikan penjaminan KUR Rp 31,35 triliun. Sementara di 2010, keduanya telah menjamin KUR sebesar Rp 26,6 triliun. Dimana Askrindo menjamin Rp 14,2 triliun, dan Jamkrindo sekitar Rp 16,8 triliun.
(wep/hen)











































