Antisipasi The Fed, BI Berniat Naikkan Suku Bunga SBI
Rabu, 16 Jun 2004 12:02 WIB
Jakarta - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Anwar Nasution mengatakan kemungkinan BI akan menaikkan tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI), terkait rencana bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), yang akan menaikkan suku bunganya hingga 25 basis poin. Namun meski ada kenaikan SBI, diperkirakan suku bunga kredit tidak akan mengalami kenaikan."Tidak ada kaitan antara suku bunga SBI denagn tingkat suku bunga kredit," tandas Anwar saat ditemui di gedung BI, Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (16/6/2004).Anwar menjelaskan, tingkat suku bunga SBI sudah turun drastis sejak tahun lalu. Tahun lalu, suku bunga SBI masih berada di level 12 persen, kini sudah jauh menurun di level 7 persen. "Tapi apa kemudian tingkat suku bunga kredit bergeming, nggak tuh, apa LDR juga naik, nggak tuh. Jadi tidak ada kaitannya," katanya.Mengenai rencana The Fed menaikkan suku bunga, Anwar menilai, hal itu terkait ekonomi AS yang sudah overheating. Indonesia diperkirakan juga akan terkena dampak berupa tingkat inflasi yang lebih tinggi dari yang ditargetkan yakni sebesar 5 persen. "Ini memberi indikasi bahwa kita harus melakukan sesuatu dan BI sudah membuat 3 kebijakan terbaru untuk mengatasinya," imbuh dia.Ketiga kebijakan dimaksud, menurut Anwar, yakni bagaimana menyedot likuiditas melalui kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM) yang rencananya akan dilakukan bulan depan, mengubah perhitungan dari net open position agar modal yang masuk bisa tinggal lebih lama dan kemungkinan menaikkan tingkat suku bunga SBI.Saat ditanya mengenai posisi Indonesia yang terkena dampak paling besar dibanding negara lain akibat kenaikan suku bunga AS, Anwar menilai, hal itu terjadi karena bank-bank di Indonesia tidak mengucurkan kredit."Ini karena iklim usaha kita buruk dan restrukturisasi perusahaan di Indonesia jauh lebih lambat dibanding negara-negara itu. Misalnya Texmaco sudah 7 tahun tapi apa hasilnya," kata Anwar seraya mengatakan bank-bank justru kini menempatkan dananya di SBI, obligasi, Fasbi ataupun valuta asing.
(ani/)











































