Neraca Pembayaran RI Surplus US$ 7,66 Miliar

Triwulan I-2011

Neraca Pembayaran RI Surplus US$ 7,66 Miliar

- detikFinance
Selasa, 10 Mei 2011 13:42 WIB
Neraca Pembayaran RI Surplus US$ 7,66 Miliar
Jakarta - Sepanjang triwulan I-2011, neraca pembayaran Indonesia (NPI) tercatat mengalami surplus US$ 7,66 miliar, naik 15,78% dibandingkan periode yang sama di 2010 yang sebesar US$ 6,621 miliar.

Kepala Biro Humas Bank Indonesia (BI) Difi A. Johansyah mengatakan, transaksi berjalan maupun transaksi modal dan finansial memberikan kontribusi positif terhadap surplus tersebut. Sejalan dengan itu, jumlah cadangan devisa pada akhir triwulan I-2011 bertambah menjadi US$ 105,7 miliar atau setara dengan 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

"Tren penyusutan surplus transaksi berjalan yang terjadi sejak triwulan IV-2009 tertahan di triwulan I-2011 dengan membukukan surplus sebesar US$ 1,9 miliar, lebih tinggi dibandingkan surplus US$1,1 miliar pada triwulan IV-2010," ujar Difi dalam siaran pers, Selasa (10/5/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Difi, perbaikan kinerja transaksi berjalan tersebut lebih disebabkan oleh turunnya pembayaran pendapatan, khususnya bunga utang, dan pembayaran jasa travel terkait berlalunya musim haji yang keduanya bersifat musiman.

Penguatan transaksi berjalan lebih lanjut terhambat oleh penurunan kinerja neraca perdagangan barang karena tingginya impor minyak akibat penurunan produksi nasional dan peningkatan konsumsi BBM di tengah kenaikan harga minyak di pasar internasional.

Transaksi berjalan di triwulan I-2011 mencatat surplus US$ 1,926 miliar, jumlah surplus transaksi berjalan ini turun dibandingkan triwulan I-2010 yang sebesar US$ 1,938 miliar.

Sementara transaksi modal dan finansial mengalami surplus US$ 6,221 miliar. Naik dibandingkan triwulan I-2010 yang sebesar US$ 5,59 miliar.

Investasi langsung di Indonesia masih terus meningkat sejalan dengan iklim investasi yang semakin kondusif dan stabilitas makroekonomi yang terjaga.

Sementara itu, derasnya arus masuk investasi portofolio didorong oleh masih tingginya ekses likuiditas di pasar keuangan global dan relatif menariknya imbal hasil investasi di dalam negeri.


(dnl/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads