Perbankan RI Gampang Dibobol Karena Teknologi Ketinggalan Zaman

Perbankan RI Gampang Dibobol Karena Teknologi Ketinggalan Zaman

- detikFinance
Jumat, 13 Mei 2011 12:18 WIB
Perbankan RI Gampang Dibobol Karena Teknologi Ketinggalan Zaman
Jakarta - Maraknya kasus fraud (pembobolan) di industri perbankan belakangan ini karena masih lemahnya teknologiyang digunakan. Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, bank di Indonesia masih ketinggalan jaman.

Demikian diungkapkan Ketua Bidang Teknologi Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) Josh Luhukay ketika ditemui di sela acara IBEX 2011 di JCC, Senayan, Jakarta, Jumat (13/5/2011).

"Di luar negeri internal control hanya menjadi sebuah pelengkap. Indonesia agak ketinggalan jaman soal ini, karena di sana keamanan dikontrol melalui teknologi yang canggih yang biasa dikenal dengan beyond transaction di mana transaksi secara aman dan dipantau ketat teknologi sistem komputerisasi," ujar Josh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Josh, yang namanya teknologi atau IT tidak akan bisa disogok alias 'kongkalikong'. Karena, lanjut Josh ketika bank menerapkan teknologi automatic control maka dana keluar dan masuk akan terlihat dari sistem.

"Ketika ada dana masuk dalam jumlah besar ke bank dan sebaliknya dana keluar maka akan ada sistem alert. Dana masuk dan keluar tersebut bisa dipantau secara ketat," jelas Mantan Wakil Direktur PT Bank Danamon Tbk ini.

Dicontohkan Josh, ketika sebuah Kantor Cabang menerima dana masuk sekian ratus miliar maka sistem akan memberikan alert di mana pegawai bank tidak akan bisa memasukkan dana tanpa data-data penting nasabah. Termasuk, sambungnya, ketika dana keluar dalam jumlah besar.

"Jadi kantor pusat ataupun atasan akan mengetahui ketika ada sistem yang tidak berjalan normal. Nantinya akan ada call back di pusat kepada cabang di mana ditanyakan data-data nasabah yang mengambil dana ataupun menyimpan dana dalam jumlah besar," kata Dia.

Lebih jauh Josh mengatakan, sistem seperti ini tidak akan mahal harganya ketimbang harus mempercayakan 100% kepada pegawai bank. Jauh lebih baik, tambahnya, jika harus mengganti dana nasabah akibat fraud.

"Sistem perlu diperbaiki, tidak hanya internal control tetapi mekanisme dari keamanan melalui teknologi," terangnya.

(dru/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads