Kredit Nganggur Rp 623 Triliun, Bankir Tak Terima Dibilang Malas

Kredit Nganggur Rp 623 Triliun, Bankir Tak Terima Dibilang Malas

- detikFinance
Senin, 23 Mei 2011 11:47 WIB
Kredit Nganggur Rp 623 Triliun, Bankir Tak Terima Dibilang Malas
Jakarta - Industri perbankan tidak terima dibilang malas memberikan kredit. Pasalnya kredit perbankan yang belum dicairkan alias undisbursed loan cukup tinggi hingga mencapai Rp 623 triliun.

Jika terkait suku bunga kredit, perbankan mengklaim suku bunga kredit saat ini merupakan yang paling rendah sejak Indonesia merdeka.

Demikian disampaikan oleh Ketua Umum Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono dalam Rapat dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, (23/5/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Banyak yang bilang bankir itu hati-hati dalam memberikan kredit dan bankir malas memberikan kredit," ujar Sigit.

"Hal itu salah, karena terbukti kredit tumbuh 22,8% sampai Maret 2011 dan porsi undisbursed loan itu mencapai Rp 623,2 triliun," imbuh Komisaris BCA ini.

Undisbursed loan merupakan kredit yang sudah disetujui oleh perbankan, namun nasabah belum mencairkan kredit tersebut karena alasan tertentu.

Menurut Sigit, yang perlu dipertanyakan adalah kesiapan dari sektor riil dalam menyerap kredit. Industri perbankan, lanjutnya, sudah terbukti siap untuk membantu mendorong pertumbuhan ekonomi dari pengucuran kredit.

Lebih jauh Sigit mengungkapkan, terkait dengan suku bunga ia mengatakan suku bunga kredit ini tercatat yang paling rendah sepanjang masa.

"Kami bisa menjamin suku bunga kredit sekarang itu yang paling rendah sejak Indonesia merdeka. Untuk bisa menurunkannya lagi mari kita cari di mana persoalannya," ungkapnya.

Di tempat yang sama Ketua Himpunan Bank-Bank Negara (Himbara) Gatot M Suwondo mengatakan suku bunga kredit perbankan sudah cukup murah.

"Suku bunga kredit itu sudah cukup murah. Cuma sektor riil yang belum mampu menyerap," katanya.

Gatot menegaskan perbankan sudah memfasilitasi kredit namun memang sektor riil belum menggunakannya. "Masalahnya ada di infrastruktur dan masalah-masalah sendiri dalam industri tersebut bukan dari perbankan, bunga sudah murah," tukasnya.

(dru/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads