Berbeda dengan di Malaysia di mana bank sentralnya mengatur margin bunga yang boleh diambil oleh perbankan.
"Dalam kenyataannya memang margin yang tinggi itu menarik investasi masuk sebagai data tarik pasar," ujar Ketua Umum Perbanas Sigit Pramono ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (23/5/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara bank asal Indonesia sangat sulit untuk membuka cabangnya di Singapura atau Malaysia.
"Memang dari awal itu Malaysia dan Singapura aturannya ketat. Bank asing di sana susah buka cabang. Memang aturan di sini yang longgar. Bisa membuka cabang kapan saja dan berapa saja," tutur Sigit.
Kemudian, di Indonesia investor asing juga dibolehkan memiliki saham bank hingga 99%. "Ini berbeda dengan negara lain, yang membatasi kepemilikan asing di bank," imbuh Sigit.
Seperti diketaui, Bank Indonesia (BI) telah menerima surat pernyataan bank asal Malaysia RHB Capital untuk mengakuisisi PT Bank Mestika.
Selain itu Affin Bank asal Malaysia juga selangkah lagi menguasai PT Bank Ina Perdana. Affin Bank memang sudah sejak lama menyampaikan niatnya untuk mengakuisisi Bank Ina.
(dnl/qom)











































