Demikian tertuang dalam Temuan Uang Palsu Statistik Sistem Pembayaran seperti dikutip detikFinance, Rabu (8/6/2011).
Data bank sentral mengungkapkan pecahan yang paling banyak dipalsukan yakni Rp 100.000 yakni mencapai 58,5%. Diikuti oleh pecahan Rp 50.000 yang mencapai 33,2% dan ditempat ketiga diduduki pecahan Rp 5.000 yang sekitar 3,8%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, BI mencatat hingga Februari 2011 bank sentral masih menemukan 2 lembar uang palsu dalam 1 juta bilyet uang asli.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Bank Indonesia Difi Ahmad Johansyah mengatakan paling banyak peredaran uang palsu yakni di Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi (Jabodetabek) serta Banten pada periode tersebut.
"Ditinjau dari daerah penemuan uang palsu secara berurutan dari yang terbesar untuk 5 daerah adalah pertama Jabodetabek dan Banten, kemudian daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Bengkulu, dan terakhir Jawa Timur," jelas Difi.
Di 2010 sendiri, tercatat dalam 1 juta bilyet uang asli BI menemukan 10 uang palsu. Bank sentral paling banyak menemukan uang palsu pada periode Desember 2010 di mana mencapai 20 lembar uang palsu dalam 1 juta bilyet uang asli.
Pada periode tersebut 71,5% uang palsu yakni pecahan Rp 100.000 sedangkan kedua terbanyak yakni pecahan Rp 50.000 yang mencapai 20,5%.
(dru/qom)










































